Lifestyle / Komunitas
Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:01 WIB
Sepatu Lari adidas Hyperboost Edge (adidas)
Baca 10 detik
  • Sepatu adidas Hyperboost Edge seharga Rp3.500.000 memadukan teknologi midsole Hyperboost Pro, upper PRIMEWEAVE, dan outsole LIGHTTRAXION.
  • Dokter Tirta menguji sepatu lari tersebut sejauh 8 kilometer dan menilai karakternya sangat nyaman serta agresif.
  • Sepatu ini dinilai lebih cocok digunakan untuk sesi lari jarak jauh dengan kecepatan tinggi.

Namun, perhatian Dr. Tirta tidak hanya tertuju pada tampilan. Ia justru memberikan catatan penting mengenai ukuran sepatu yang digunakannya. Menurutnya, sizing Hyperboost Edge terasa berbeda dibandingkan Adizero SL.

Karena itu, persoalan ukuran menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan calon pengguna. dr. Tirta menyarankan pelari mencoba langsung sepatu sebelum membeli agar dapat menemukan ukuran yang sesuai dengan bentuk kaki.

Mengenai karakter sepatu, Dr. Tirta memberikan perbandingan dengan sejumlah model lain.

“Karakter menurutku lebih mirip sama Megablast dibandingkan SB3,” ujarnya.

Ia kemudian memberikan catatan mengenai karakter respons sepatu yang menurutnya cukup agresif.

Karakter tersebut membuatnya menilai Hyperboost Edge lebih sesuai untuk pelari yang ingin menggunakan satu sepatu untuk long run dengan kecepatan tinggi.

“Ini di atasnya, untuk long run tapi yang kenceng. Buat teman-teman yang speed-nya masih nanggung, saranku kalau pakai ini cukup hati-hati aja,” ujarnya.

Selain karakter midsole, ia menyoroti konstruksi bagian heel dan fit sepatu. Menurut dr. Tirta, bentuk tersebut memberikan karakter tersendiri dibandingkan sepatu pembanding yang ia gunakan.

Ia menjelaskan bahwa bagian heel Hyperboost Edge terasa lebih flat dibandingkan Superblast.

Baca Juga: Review KIPRUN Kipstorm Tempo, Sepatu Lari Long Run dan Tempo Run Pecinta Pace Ngebut

Catatan lain diberikan untuk pelari yang memiliki pola pendaratan kaki tertentu. dr. Tirta menjelaskan bahwa bagian tertentu pada sepatu terasa cukup firm sehingga berpotensi menimbulkan gesekan apabila kaki mendarat dengan pola yang kurang tepat.

Meski memberikan peringatan, ia tetap menilai bagian tersebut memiliki karakter yang mendukung performa. Ia bahkan menyarankan pelari dengan kondisi kaki atau pola pendaratan tertentu untuk melakukan antisipasi dengan tapping pada area yang dianggap rawan.

Material upper juga mendapat perhatian positif. Dr. Tirta menyebut konstruksinya memiliki karakter yang menyerupai mesh pada supershoes. “Ini mesh-nya tuh kayak mesh supershoes,” ujarnya.

Setelah mencoba Hyperboost Edge untuk berlari sekitar 8 kilometer, dr. Tirta memberikan penilaian yang cukup positif mengenai kenyamanannya.

“Memang nyaman dan agresif, jadi kayak pakai Megablast aja,” ujar dr. Tirta.

dr. Tirta juga melihat Hyperboost Edge dalam konteks perkembangan kategori super trainer yang semakin populer.

Kini semakin banyak pelari serius yang menginginkan satu sepatu untuk digunakan dalam berbagai jenis latihan. Jika sebelumnya pelari cenderung memisahkan sepatu untuk easy run, interval, dan race, kini kebutuhan tersebut mulai bergeser ke sepatu serbaguna dengan kemampuan mencakup berbagai sesi.

Hyperboost Edge menurutnya dapat masuk ke kebutuhan tersebut karena memiliki bantalan tinggi sekaligus karakter agresif. Ia juga menyoroti tinggi midsole sepatu yang mencapai 45 mm pada bagian belakang dan 39 mm di bagian depan.

Load More