- Masyarakat Jawa menggunakan perhitungan weton untuk menilai potensi keharmonisan pernikahan berdasarkan nilai neptu calon pengantin.
- Primbon Jawa menggolongkan beberapa kombinasi weton tertentu seperti Wage dan Pahing sebagai pantangan karena dinilai rawan konflik.
- Pasangan yang mengalami ketidakcocokan weton dapat menyiasatinya melalui ritual penolak bala atau ruwatan serta komunikasi yang baik.
Pasangan dengan weton ini dipercaya akan menghadapi ujian kesetiaan dan perbedaan prinsip yang cukup tajam. Jika tidak dikelola dengan baik, hubungan bisa menjadi tidak stabil dan penuh ketegangan.
5. Pasangan dengan Hasil Satriya Wirang, Bumi Kapetak, atau Lebu Katiup Angin
Selain total neptu tertentu, perhitungan lanjutan dengan membagi jumlah neptu oleh tujuh juga menghasilkan kategori buruk.
Sisa 5 disebut Satriya Wirang (kesatria yang dipermalukan) yang dikaitkan dengan kesedihan dan rasa malu. Sisa 6 adalah Bumi Kapetak (tanah tertutup) yang menggambarkan kehidupan penuh beban pikiran.
Sementara sisa 7, Lebu Katiup Angin (debu tertiup angin), menandakan kehidupan tidak stabil dan sering berpindah. Banyak kombinasi weton spesifik yang jatuh pada tiga kategori ini sehingga tidak dianjurkan.
6. Beberapa Kombinasi Lain yang Sering Disebutkan
Beberapa sumber primbon juga menyebutkan pasangan lain seperti Minggu Kliwon dengan Selasa Pahing, Sabtu Kliwon dengan Selasa Legi, atau Jumat Kliwon dengan Selasa Wage.
Umumnya, kombinasi ini dikaitkan dengan kesulitan ekonomi, benturan karakter, atau ketidakstabilan emosional. Meski daftarnya bisa mencapai ratusan tergantung metode perhitungan, prinsip utamanya tetap sama: menghindari potensi “sengkala” atau kesialan dalam berumah tangga.
Pada akhirnya, kepercayaan terhadap weton merupakan warisan budaya yang kaya makna filosofis. Ia mengajarkan pentingnya kehati-hatian, saling pengertian, dan ikhtiar dalam membangun kehidupan bersama.
Bagi pasangan yang menemukan ketidakcocokan, ritual seperti ruwatan, sedekah, atau doa bersama sering dijadikan jalan tengah. Yang terpenting adalah komunikasi terbuka, komitmen, dan saling menghargai, karena keharmonisan rumah tangga pada akhirnya ditentukan oleh usaha kedua belah pihak, bukan semata-mata angka neptu.
Baca Juga: 5 Arti Mimpi Meninggal Sendiri Menurut Primbon Jawa, Pertanda Baik atau Petaka?
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Dikira Dicuri, Wanita Lamongan Ini Baru Sadar Motornya Ketinggalan di Minimarket Setelah 3 Hari
-
GRIB Jaya Terseret Kematian Warga di Pejompongan, Puan Maharani: Bila Terbukti Ya Harus Tuntas
-
Daftar Pasangan Weton yang Tidak Boleh Menikah Menurut Primbon Jawa
-
Jangkau Tanah Baduy, PNM Tegaskan Komitmen Pemberdayaan hingga Pelosok Kanekes
-
Apakah Pemakaian Sunscreen Setiap Hari Menghambat Penyerapan Vitamin D? Ini Faktanya
-
Mencuri Spirit di Buku Be The New You: Mulai dari Nol, Siapa Takut?
-
BBM Non Subsidi September 2026 Naik: Beban Global atau Momentum Evaluasi?
-
Perkenalkan Olly, Robot Humanoid Petugas Layanan di Stasiun MRT
-
Mykonos Baby Love Wangi Apa? Ini Harga Parfum yang Dipakai Haechan NCT
-
PKB Buka Suara Soal Isu Intervensi 'Paket Titipan' di Muktamar NU