Lifestyle / Komunitas
Senin, 07 September 2026 | 16:35 WIB
Setanah, Tak Diam: Membaca Risiko Bandung lewat Sains dan Seni. (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Selasar Sunaryo Art Space di Bandung menyelenggarakan pameran Setanah, Tak Diam dari 28 Agustus 2026 hingga Januari 2027.
  • Kolaborasi institusi sains dan seni menerjemahkan hasil riset risiko geologi Bandung menjadi pengalaman yang mudah diakses publik.
  • Pameran bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dinamika geologi melalui integrasi data ilmiah dan pengalaman warga lokal.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dibangun dari data ilmiah. Pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat juga diperlukan agar informasi mengenai risiko dapat diterapkan dalam konteks kehidupan nyata.

Membuka percakapan tentang Bandung yang terus bergerak

Setanah, Tak Diam resmi dibuka pada 28 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga Januari 2027. Selain pameran, program publik seperti kuliah, lokakarya, diskusi, dan kegiatan bersama komunitas juga disiapkan.

Sejumlah peneliti yang terlibat dalam proyek ini antara lain Dr Ekbal Hussain dari BGS, Dr Endra Gunawan dan Dr Prasanti Widyasih Sarli dari ITB, Dr Rahma Hanifa dari BRIN, serta Dr Prananda Luffiansyah Malasan dari ITB dan SSAS yang juga berperan sebagai kurator.

Bagi British Council, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa riset tidak harus berhenti ketika penelitian selesai. Pengetahuan dapat terus dikembangkan melalui pertemuan dengan masyarakat dan diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.

Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, mengatakan dampak kolaborasi riset akan semakin berarti ketika pengetahuan dapat dibagikan, dipahami, dan digunakan.

Load More