- CEO DANA Vince Iswara membahas adopsi AI di IdeaFest 2026 demi menyelesaikan persoalan nyata.
- Penerapan AI di DANA sepanjang 2025 meningkatkan produktivitas 57 persen serta menurunkan perjudian online 80 persen.
- CTO DANA Norman Sasono menyatakan manusia tetap bertanggung jawab atas konteks, keputusan, dan manajemen risiko.
AI bisa digunakan untuk mencari inspirasi menu makan, menyusun jadwal perjalanan, membantu membuat daftar pekerjaan, mencari ide hadiah, hingga menemani proses belajar. Bagi pekerja, AI juga dapat membantu pekerjaan administratif yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu.
Namun, kemudahan tersebut membawa tantangan baru. Ketika segala sesuatu dapat dilakukan dengan lebih cepat, manusia justru dituntut untuk semakin selektif dalam menentukan apa yang memang perlu dibantu AI dan apa yang tetap harus dikerjakan sendiri.
Hal ini juga berkaitan dengan keamanan dan tanggung jawab. Dalam kehidupan digital, tidak semua aktivitas bisa dilakukan dengan prinsip “semakin mudah semakin baik”.
Dana, misalnya, menerapkan pendekatan Smart Friction dengan menambahkan lapisan verifikasi pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi. Bersama PPATK, pendekatan tersebut disebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas yang terindikasi perjudian online di platform hingga 80 persen sepanjang 2025.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa terkadang pengalaman digital yang baik bukan berarti semuanya harus dibuat serba instan. Ada situasi tertentu ketika sedikit “gesekan” justru dibutuhkan agar seseorang lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan.
Bukan Lagi Sekadar Bisa Menggunakan AI
Perubahan cara bekerja akibat AI juga membuat keterampilan yang dibutuhkan manusia ikut berubah.
Dalam sesi “Beyond Coding: Building a Career AI Can’t Replace”, Norman Sasono, CTO Dana Indonesia, bersama Sai Prasad Kolluri, CTO Google Cloud Indonesia, dan Abil Sudarman, Founder ASSAI, membahas bagaimana perkembangan AI memengaruhi profesi software engineer.
Coding tetap menjadi kemampuan penting. Namun, kemampuan memahami kebutuhan, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta melihat risiko menjadi semakin bernilai.
“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” ujar Norman.
Pesan tersebut sebenarnya berlaku lebih luas di luar dunia teknologi. Di tengah kehidupan yang semakin dibantu AI, kemampuan manusia untuk berpikir, memahami konteks, berkomunikasi, berempati, dan menentukan pilihan justru tidak kehilangan relevansinya.
AI mungkin dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi manusia tetap perlu menentukan apakah jawaban tersebut masuk akal, sesuai kebutuhan, dan tepat untuk digunakan.
Karena itu, tren AI ke depan tampaknya bukan semata-mata tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi terbaru. Lebih dari itu, tantangannya adalah bagaimana manusia bisa menjadikan AI sebagai bagian dari kehidupan tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mengambil keputusan sendiri.
Pada akhirnya, AI mungkin akan semakin hadir dalam rutinitas sehari-hari. Tetapi seberapa besar manfaatnya tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya.
Teknologi bisa membantu mempercepat banyak hal. Namun, tujuan, pertimbangan, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.