Kulit Jagung Dikembangkan Jadi Bioplastik, Bisakah Jadi Alternatif untuk Kurangi Sampah Plastik?

Senin, 14 September 2026 | 13:15 WIB
Ilustrasi kulit jagung. Sumber: Magnific.com

Suara.com - Krisis sampah plastik yang terus memburuk mendorong peneliti mencari bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya berasal dari limbah pertanian yang selama ini banyak terbuang, yakni kulit jagung.

Peneliti Universitas Airlangga (UNAIR), Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D., mengembangkan bioplastik berbahan selulosa dari kulit jagung. Material tersebut kemudian dipadukan dengan karboksimetil selulosa (CMC) dan sorbitol sebagai bahan pemlastis.

Kulit jagung bukan bagian kecil dari hasil panen. Mengutip Sumarwan (2010), Aditya menyebut residu tersebut mencapai 38,38% dari total berat panen jagung.

Potensi pemanfaatannya menjadi penting di tengah besarnya persoalan sampah plastik global.

Produksi plastik sintetis dunia mencapai sekitar 500 juta ton pada 2020. Namun, sebagian besar belum dikelola secara berkelanjutan. Sekitar 79% berakhir di tempat pembuangan sampah atau lingkungan, 12% dibakar, sementara hanya 9% yang didaur ulang, berdasarkan studi Bioplastics for a Circular Economy yang diterbitkan di Nature Reviews Materials pada 2022.

Studi tersebut menyebut bioplastik berbasis bahan hayati berpotensi mendukung ekonomi sirkular. Bahan bakunya dapat berasal dari sumber terbarukan atau material daur ulang dan diproduksi dengan penggunaan energi yang lebih rendah karbon.

Indonesia memiliki sumber bahan baku yang cukup besar. Produksi jagung nasional mencapai sekitar 22,5 juta ton pada 2020. Jawa Timur menjadi salah satu sentra utama dengan produksi sekitar 5,37 juta ton per tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik setempat.

Besarnya produksi jagung juga berarti limbah kulit yang dihasilkan tidak sedikit.

Komposisi Menentukan Sifat Bioplastik

Dalam penelitiannya, Aditya menemukan bahwa komposisi CMC dan sorbitol berpengaruh terhadap karakteristik bioplastik yang dihasilkan.

Penurunan kadar CMC dapat mengurangi kemampuan material menyerap air atau mengalami pembengkakan. Sebaliknya, penambahan sorbitol meningkatkan persentase pembengkakan.

Kombinasi penurunan CMC dan penambahan sorbitol juga membuat bioplastik lebih cepat kehilangan berat dan massa. Karakteristik tersebut penting dalam pengembangan material yang dapat terurai secara hayati.

Aditya menilai kulit jagung manis berpotensi menjadi bahan baku plastik biodegradable untuk berbagai kebutuhan, mulai dari domestik hingga pertanian, industri dan medis.

Pemanfaatan limbah tersebut juga dinilai dapat mendukung ekonomi sirkular. Selain menggunakan bahan baku yang murah dan melimpah, pengolahan kulit jagung menjadi bioplastik berpotensi mengurangi volume limbah dan emisi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di wilayah penghasil jagung.

Penulis: Inesia Dian

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com