Rajin Pakai Skincare tapi Jerawat Masih Muncul? Kenali Dulu Apa Itu Mikrobioma Kulit

Minggu, 20 September 2026 | 23:46 WIB
Ilustrasi mengatasi jerawat. (dok. ist)
BACA 10 DETIK
  • Regene Genomics memperkenalkan analisis mikrobioma berbasis DNA bernama SkinSignal untuk memeriksa profil mikroorganisme kulit.
  • Layanan SkinSignal menganalisis empat belas mikroorganisme yang dibagi ke dalam empat kelompok serta SkinSignal Barrier Index.
  • Pendekatan ini membantu masyarakat memahami karakteristik kulit secara personal sebelum memutuskan produk perawatan yang digunakan.

Suara.com - Sudah berapa banyak skincare yang pernah dicoba untuk mengatasi jerawat? Mulai dari sabun wajah, toner, serum, moisturizer, sampai produk dengan kandungan yang sedang ramai dibicarakan. Namun, setelah berganti-ganti produk, masalah yang sama kadang masih muncul.

Kondisi seperti ini bisa membuat kita bertanya-tanya: apakah produknya yang kurang cocok, atau sebenarnya ada hal lain pada kulit yang belum kita pahami?

Selama ini, perhatian dalam merawat kulit lebih sering tertuju pada apa yang terlihat dari luar. Kulit berminyak, kering, kusam, sensitif, atau berjerawat menjadi petunjuk untuk menentukan produk yang akan digunakan. Padahal, kulit juga memiliki ekosistem mikroorganisme yang hidup di permukaannya.

Komunitas mikroorganisme tersebut dikenal sebagai mikrobioma kulit. Keberadaannya menjadi salah satu bagian dari kondisi biologis kulit yang kini mulai mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai perawatan kulit yang lebih personal.

Bukan Sekadar Soal Produk yang Dipakai

Mikrobioma kulit terdiri dari berbagai mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit. Komposisinya dapat berbeda antara satu orang dan lainnya, sehingga kondisi kulit setiap orang pun tidak selalu memberikan respons yang sama terhadap rutinitas perawatan.

Inilah yang membuat pendekatan personalized skincare semakin menarik. Alih-alih hanya mengikuti produk yang sedang populer atau mencoba satu produk setelah produk lainnya, perhatian mulai bergeser pada upaya memahami karakteristik kulit secara lebih menyeluruh.

Data mengenai mikrobioma dapat memberikan perspektif berbeda mengenai kondisi kulit seseorang. Bukan untuk menentukan produk apa yang pasti akan berhasil, melainkan sebagai informasi tambahan yang membantu seseorang memahami kondisi kulitnya.

Pendekatan ini juga membuat istilah “kulit sehat” menjadi lebih kompleks. Kulit yang terlihat baik dari luar belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai apa yang terjadi pada ekosistem di permukaannya.

Mengenal Kulit dari Ekosistem Mikrobiomanya

Salah satu pendekatan yang dikembangkan saat ini adalah analisis mikrobioma berbasis DNA. Sampel dari kulit diperiksa untuk melihat profil mikroorganisme yang terdapat di dalamnya.

Hasilnya kemudian dapat memberikan gambaran mengenai kelompok mikroorganisme yang teridentifikasi pada saat pemeriksaan. Informasi semacam ini berbeda dari diagnosis medis dan tidak dimaksudkan untuk menentukan seseorang mengalami penyakit atau infeksi tertentu.

Pendekatan tersebut menjadi menarik terutama bagi mereka yang merasa sudah mencoba berbagai cara untuk merawat kulit, tetapi masih kesulitan memahami mengapa kondisinya mudah berubah.

Daripada terus menambah produk ke dalam rutinitas, ada kalanya kita justru perlu berhenti sejenak dan mengenali kondisi kulit sendiri.

Dari Skincare Berlapis ke Perawatan yang Lebih Personal

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com