Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Senin, 28 September 2026 | 23:23 WIB
Penyajian Sarapan Terbanyak untuk Istri Bersama Adam Suseno, Darius Sinathrya, dan Ananda Omesh. (Dok. Frisian Flag)
BACA 10 DETIK
  • Psikolog keluarga Ajeng Raviando menyatakan pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga.
  • Frisian Flag mengadakan kampanye #TanggalMerahUntukIbu melalui penyajian sarapan terbanyak di Bandung pada 28 September 2026.
  • Acara pemecahan rekor MURI tersebut juga akan dilanjutkan ke Yogyakarta pada tanggal 2 hingga 4 Oktober 2026.

Suara.com - Menjadi ibu sering kali berarti harus selalu siap ketika keluarga membutuhkan. Mulai dari menyiapkan sarapan, memastikan kebutuhan anak terpenuhi, mengurus rumah, sampai memikirkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat oleh anggota keluarga lainnya.

Karena sudah menjadi bagian dari keseharian, berbagai pekerjaan tersebut terkadang dianggap sebagai rutinitas biasa. Padahal, menurut psikolog keluarga Ajeng Raviando, pekerjaan rumah tangga bukan semata-mata tanggung jawab ibu.

“Pekerjaan di rumah itu adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga, bukan hanya tanggung jawab ibu,” ujar Ajeng.

Menurut Ajeng, ada pekerjaan domestik yang terlihat dan mudah dihitung, seperti memasak, mencuci, atau membereskan rumah. Namun, ada pula pekerjaan yang tidak terlihat tetapi tetap menguras energi ibu, yakni beban mental untuk terus memikirkan kebutuhan keluarga.

Contohnya saat menyiapkan sarapan. Pekerjaan ibu bukan hanya membuat dan menyajikan makanan, tetapi juga memikirkan apakah bahan tersedia, apa menu yang akan dibuat, hingga kembali memikirkan sarapan untuk keesokan harinya.

“Kadang-kadang kalau di rumah sering kali pekerjaan yang terlihat kayaknya lebih gampang diukur daripada pekerjaan yang tidak terlihat,” kata Ajeng.

Beban yang tidak terlihat itu membuat ibu bisa saja tetap merasa “bekerja” meski secara fisik sedang tidak melakukan pekerjaan rumah.

Suami Tak Harus Menunggu Diminta

Karena itu, Ajeng menilai berbagi peran dalam keluarga sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika ibu meminta bantuan.

Menurutnya, suami juga perlu mengambil inisiatif untuk mengurus pekerjaan rumah. Sebab, ketika ditanya apakah membutuhkan bantuan, ibu yang sudah terbiasa mengurus semuanya bisa saja justru mengatakan tidak.

“Keputusan untuk membantu itu harusnya proaktif. Misalnya nih, ini hari Minggu, aku aja deh yang take care. Aku aja yang handle kerjaan semuanya. Jadi kamu boleh bangun agak siang,” ujarnya.

Dengan demikian, suami bukan hanya membantu ibu menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ikut mengambil tanggung jawab atas kehidupan rumah tangga.

Bagi Ajeng, memberikan waktu kepada ibu juga bukan sekadar memberikan kesempatan untuk melakukan me time. Lebih dari itu, ibu membutuhkan waktu untuk melakukan recovery.

“Boleh kasih tanggal merah untuk ibu supaya ibu-ibu juga bisa punya waktu untuk recovery,” katanya.

Menurut Ajeng, recovery dibutuhkan agar ibu dapat memulihkan energi, baik secara fisik maupun mental. Sebab, selama ini keluarga sering kali fokus memastikan anak dan anggota keluarga lain mendapatkan perhatian, sementara kebutuhan ibu untuk dirawat justru terlupakan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com