Belajar dari Rumah Adat Batak: Bagaimana Merancang Bangunan yang Rendah Karbon

Rabu, 30 September 2026 | 11:38 WIB
Ilustrasi rumah adat Batak. Sumber: Marketeers/Muhammad Perkasa Al Hafiz

Suara.com - Sektor bangunan dan konstruksi menyumbang sekitar 37 persen emisi CO2 global dan hampir separuh ekstraksi material dunia. Persoalannya bukan hanya listrik untuk lampu dan pendingin ruangan, tetapi juga emisi yang muncul dari produksi material hingga proses konstruksi.

Laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025–2026 dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Global Alliance for Buildings and Construction (GlobalABC) menyebut sekitar separuh bangunan yang akan berdiri pada 2050 belum dibangun atau direnovasi.

Artinya, keputusan mengenai desain dan material bangunan hari ini akan berpengaruh terhadap jejak karbon selama beberapa dekade mendatang.

Di tengah persoalan tersebut, pakar arsitektur Universitas Sumatera Utara (USU) melihat ada pengetahuan lama yang bisa kembali dipelajari: rumah adat Batak.

Dibangun menggunakan material alami seperti kayu, bambu, dan ijuk, rumah adat Batak dirancang untuk memanfaatkan cahaya dan aliran udara alami. Dengan begitu, kebutuhan terhadap penerangan listrik dan pendingin ruangan dapat ditekan.

Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution, dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik USU, mengatakan rancangan tersebut menunjukkan bahwa prinsip arsitektur rendah karbon telah dipraktikkan jauh sebelum istilah tersebut populer.

"Konsep environment zero carbon itu sebenarnya sudah berjalan jauh sebelum istilah itu dikenal," kata Achmad.

Menurutnya, arsitektur merupakan bagian dari budaya yang lahir dari interaksi manusia dengan alam. Karena itu, masyarakat di berbagai wilayah memiliki cara sendiri dalam menyesuaikan hunian dengan kondisi lingkungannya.

Rumah adat Batak, kata Achmad, merupakan salah satu contoh bagaimana material, bentuk bangunan, pencahayaan, dan ventilasi dapat dirancang dengan mempertimbangkan alam.

Pendekatan ini juga relevan karena emisi bangunan tidak berhenti pada penggunaan energi. Laporan UNEP dan GlobalABC edisi 2023 mencatat embodied carbon, yakni emisi dari produksi material dan proses konstruksi, masih mencakup lebih dari seperempat emisi sektor bangunan dan diperkirakan terus meningkat.

Artinya, mengurangi konsumsi listrik saja tidak cukup. Material yang digunakan sejak awal juga perlu diperhitungkan.

Kemampuan rumah tradisional dalam merespons iklim pun pernah diteliti. Yuri Hermawan Prasetyo mengkaji kinerja termal dan aerodinamika rumah adat Batak Toba melalui simulasi digital dan pengukuran suhu di dalam serta luar rumah selama 24 jam pada April dan Mei 2013.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Widyariset pada 2016 itu mengkaji penggunaan ventilasi alami dan material lokal sebagai bagian dari desain pasif rumah tradisional.

Namun, pengetahuan semacam ini perlahan bergeser ketika modernisme berkembang setelah Perang Dunia II. Negara-negara yang baru merdeka berlomba mengadopsi bentuk arsitektur modern. Bangunan pun cenderung semakin seragam, termasuk dengan penggunaan kaca dan aluminium.

Achmad menilai perubahan tersebut membuat hubungan antara bangunan dan kondisi lingkungan lokal semakin kurang diperhatikan.

Kesadaran terhadap dampak lingkungan bangunan kemudian kembali menguat sejak sekitar 1980-an hingga 1990-an, seiring meningkatnya perhatian terhadap pemanasan global. Di Indonesia, prinsip bangunan hijau antara lain diatur melalui Permen PUPR Nomor 02/PRT/M/2015 dan diperkuat Permen PUPR Nomor 21 Tahun 2021.

Bagi Achmad, sejumlah prinsip yang kini disebut sebagai arsitektur berkelanjutan sebenarnya telah lama dipraktikkan masyarakat tradisional.

Mempelajari kembali rumah adat, menurutnya, bukan berarti menolak arsitektur modern. Pengetahuan tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk merancang bangunan yang lebih hemat energi, material, dan selaras dengan kondisi lingkungan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com