Hentikan Plastik ke Laut Saja Tak Cukup, Sampah Lama Bisa Berubah Jadi Mikroplastik

Rabu, 30 September 2026 | 12:43 WIB
Timbunan sampah plastik yang mengambang di laut. (dok.Pexels/Rui Stenio)

Suara.com - Menghentikan aliran sampah plastik baru ke laut ternyata belum cukup untuk mengatasi pencemaran laut. Sebab, sampah yang sudah telanjur berada di laut tetap dapat terurai menjadi potongan-potongan lebih kecil atau mikroplastik.

Kondisi ini membuat upaya mengatasi sampah plastik tidak bisa hanya mengandalkan pencegahan. Sampah lama yang sudah berada di laut juga perlu dibersihkan sebelum semakin banyak yang terfragmentasi menjadi mikroplastik.

Temuan tersebut berasal dari penelitian Takuro Uehara dari Ritsumeikan University, Jepang, Mateo Cordier dari Université Paris-Saclay, Prancis, dan Laurent Lebreton dari The Ocean Cleanup, Belanda.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment pada 12 September 2026 itu menggunakan model dinamika sistem untuk menghitung kebutuhan fisik dan ekonomi dalam menangani sampah plastik laut hingga 2050. 

Model tersebut memperhitungkan pergerakan, degradasi, dan pembersihan sampah plastik berukuran besar atau makroplastik di wilayah pantai, perairan pesisir, hingga laut lepas. Peneliti juga memasukkan proses ketika makroplastik terfragmentasi menjadi mikroplastik.

"Kerangka kerja ini dirancang untuk melihat polusi plastik di laut sebagai masalah yang dinamis, bukan sekadar persoalan pembersihan satu kali," kata Uehara. (Ritsumeikan University)

Para peneliti kemudian menguji tujuh skenario yang mengombinasikan berbagai tingkat pengurangan sampah plastik yang masuk ke laut dengan strategi pembersihan pada lokasi dan waktu yang berbeda.

Hasil pemodelan menunjukkan, jika aliran plastik baru ke laut dihentikan secara bertahap hingga mencapai nol pada 2050, jumlah kumulatif plastik yang masuk ke laut sepanjang 1950-2050 dapat berkurang 51,4 persen dibandingkan skenario business as usual (BAU). (Ritsumeikan University)

Namun, menghentikan aliran baru tidak otomatis menghilangkan sampah yang sudah ada.

Tanpa pembersihan, peneliti memperkirakan mikroplastik dapat menyumbang 58,4 persen dari akumulasi plastik di laut pada 2050. Artinya, semakin lama sampah berukuran besar dibiarkan, semakin besar peluangnya terfragmentasi menjadi bagian yang lebih kecil dan lebih sulit ditangani. (Nature)

Karena itu, waktu menjadi faktor penting. Pembersihan yang dilakukan lebih awal dapat mengurangi jumlah makroplastik yang tersedia untuk berubah menjadi mikroplastik. Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dalam berbagai skenario yang diuji, kebutuhan biaya pembersihan diperkirakan berada pada kisaran €0,1 miliar hingga €5,6 miliar per tahun. Besarnya biaya bergantung pada intensitas dan strategi pembersihan yang diterapkan. 

Meski pembersihan diperlukan, penelitian ini tidak menempatkannya sebagai pengganti upaya pencegahan.

Uehara menekankan bahwa skala persoalan plastik laut membutuhkan lebih dari sekadar strategi pembersihan. Mengandalkan pembersihan besar-besaran untuk mengimbangi aliran sampah yang terus masuk ke laut bukan solusi berkelanjutan.

Karena itu, pengurangan plastik dari sumbernya tetap menjadi bagian penting. Langkah tersebut dapat mencakup pengurangan produksi dan konsumsi plastik, peningkatan pengumpulan sampah, serta penguatan sistem pengelolaan dan daur ulang.

Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa pencegahan dan pembersihan bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya perlu berjalan bersama.

Menghentikan sampah plastik baru masuk ke laut hingga 2050 penting untuk mengurangi penambahan polusi. Pada saat yang sama, sampah yang sudah telanjur berada di laut perlu ditangani sedini mungkin agar tidak terus terfragmentasi menjadi mikroplastik. 

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com