- SIG bersama para mitra memperluas program "Recycle for Good" ke Jawa Timur, NTB, dan Bali hingga Desember 2028.
- Program didanai Kementerian Federal Jerman ini menggunakan 389 lokasi jejaring pengumpulan limbah dan perangkat digital berinsentif.
- Kemitraan regional tersebut menargetkan pencegahan 10.000 ton limbah kemasan di perairan terbuka dengan melibatkan 100.000 rumah tangga.
Suara.com - Upaya menekan risiko pencemaran limbah kemasan ke perairan Indonesia diperluas melalui program "Recycle for Good – Prevent Marine Litter".
Inisiatif kolaborasi antara SIG bersama Plastic Bank, Wuppertal Institute for Climate, Environment and Energy, serta Decision Context ini melebarkan sayap ke Jawa Timur (Surabaya dan Malang), Nusa Tenggara Barat, hingga Bali, melengkapi operasional yang sebelumnya berjalan di Jakarta dan Jawa Barat.
Sebagai negara kepulauan, kesehatan ekosistem laut, pesisir, dan sungai menjadi pilar penopang lingkungan dan stabilitas ekonomi nasional.
Pencegahan sampah kemasan agar tidak bocor dan bermuara ke laut membutuhkan penanganan terintegrasi dari hulu ke hilir yang melampaui aksi pembersihan semata, mulai dari pemilahan terstandar di sumbernya hingga efektivitas rantai pemrosesan material daur ulang.
“Recycle for Good – Prevent Marine Litter’ bertujuan membuat daur ulang lebih mudah diakses, praktis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di Indonesia.
Masalah sampah laut tidak dapat diatasi hanya melalui peningkatan kesadaran. Namun, diperlukan pula pemilahan yang lebih baik, jaringan pengumpulan yang lebih kuat, infrastruktur daur ulang yang mumpuni, serta partisipasi berkelanjutan dari masyarakat dan para mitra di sepanjang value chain.
Bersama para mitra, SIG berupaya memastikan lebih banyak kemasan bekas masuk ke alur pemulihan dan daur ulang yang tepat, sekaligus mendorong kebiasaan dau rulang yang dapat memberikan manfaat lingkungan dan sosial secara berkelanjutan.” ujar Noer Wellington, Commercial Director Asia Pacific South, Japan and Korea di SIG saat pemaparan di Jakarta, tengah pekan ini.
Proyek regional yang didanai melalui ZUG atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir ini kini mencakup 389 lokasi.
Jejaring pengumpulan limbah melibatkan komunitas, sekolah, kafe, pelaku usaha, lembaga keagamaan, hingga pengumpul sampah dengan dukungan perangkat digital serta skema insentif untuk membentuk kebiasaan pemilahan yang berkelanjutan.
Guna memastikan sampah karton minuman bekas pakai tidak berakhir di laut, SIG bekerja sama dengan Eco-Paper untuk memutakhirkan kapasitas mesin pulping di fasilitas daur ulang.
Penguatan teknologi ini ditujukan mempercepat laju penyerapan kemasan pascakonsumsi dari sektor informal ke rantai industri resmi, sekaligus mendukung kepatuhan regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) dan agenda ekonomi sirkular nasional.
Aksi mitigasi sampah laut ini dilaksanakan secara simultan di Indonesia, Thailand, dan Filipina hingga Desember 2028.
Secara kawasan, kemitraan lintas negara ini menargetkan pencegahan sedikitnya 10.000 ton limbah kemasan terbuang ke perairan terbuka dengan melibatkan minimal 100.000 rumah tangga.