Perempuan Jatuh Cinta Setelah Usia 35, Mengapa Dianggap Terlambat?

Rabu, 30 September 2026 | 17:13 WIB
Serial Tante Sonya. (dok. WeTV)
BACA 10 DETIK
  • Penelitian Persona Jurnal Psikologi Indonesia mengungkapkan stereotip negatif dan tekanan sosial dapat menurunkan kesejahteraan psikologis perempuan lajang.
  • Serial Tante Sonya di WeTV menceritakan kisah cinta perempuan usia 42 tahun dengan pria yang lebih muda.
  • Karakter Sonya menghadapi konflik batin terkait trauma masa lalu serta perbedaan usia dalam menjalin hubungan baru.

Suara.com - Ketika perempuan memasuki usia 35 tahun dan masih lajang, pertanyaan tentang pernikahan sering kali belum berhenti. Belum lagi ketika ia kemudian menjalin hubungan dengan laki-laki yang lebih muda, pilihan tersebut kembali menjadi bahan penilaian.

Seolah-olah kehidupan romantis perempuan memiliki batas waktu tertentu. Ada tahapan yang dianggap harus dicapai pada usia tertentu, mulai dari menemukan pasangan hingga menikah dan membangun keluarga. Ketika seseorang menjalani hidup di luar urutan itu, ia kerap dianggap tertinggal.

Tekanan tersebut ternyata bukan sekadar komentar yang mengganggu. Penelitian terhadap 196 perempuan lajang berusia 25–55 tahun yang dipublikasikan dalam Persona: Jurnal Psikologi Indonesia menemukan bahwa stereotip negatif dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis perempuan. Ketakutan menjadi lajang juga dapat memperkuat dampak tersebut.

Artinya, pertanyaan seperti “kapan menikah?” atau anggapan terlalu pemilih dapat berkembang menjadi tekanan emosional, terutama ketika perempuan memasuki usia yang dianggap melewati “batas ideal”.

Padahal, perjalanan setiap orang dalam menemukan pasangan tidak selalu sama.

Jatuh Cinta di Usia Matang Punya Cerita Berbeda

Jatuh cinta memang tidak mengenal jadwal. Namun, membangun hubungan di usia matang sering kali datang dengan pengalaman dan pertimbangan yang berbeda.

Seseorang mungkin sudah pernah mengalami kegagalan, pengkhianatan, perceraian, atau sekadar belajar memahami kebutuhan dirinya sendiri. Karena itu, kehati-hatian dalam memilih pasangan tidak selalu berarti terlalu pemilih.

Hal tersebut tergambar dalam karakter Sonya yang diperankan Raihaanun dalam WeTV Original Tante Sonya.

Di usia 42 tahun, Sonya telah membangun kehidupan dan kariernya sendiri setelah mengalami pengkhianatan menjelang pernikahan. Pengalaman tersebut membuatnya memilih menjaga jarak dari hubungan romantis.

Situasi berubah ketika ia kembali bertemu Ben, diperankan Maxime Bouttier, laki-laki yang 14 tahun lebih muda darinya. Delapan tahun sebelumnya, Sonya pernah membantu Ben melewati masa sulit. Namun ketika mereka kembali bertemu, Ben sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.

“Sonya tahu dirinya punya perasaan kepada Ben, tetapi menerima perasaan itu tidak mudah. Ia pernah dikhianati dan kini berhadapan dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih muda. Jadi, konflik Sonya bukan soal cinta saja. Ia juga mempertanyakan apakah hubungan ini aman untuk dijalani dan apakah dirinya siap mengambil risiko sekali lagi,” ujar Surya Ardy Octaviand, Sutradara WeTV Original Tante Sonya.

Ketika Perempuan Lebih Tua dari Pasangan

Perbedaan usia dalam hubungan sebenarnya bukan hal baru. Namun, ketika perempuan menjadi pihak yang lebih tua, pilihan tersebut masih kerap mendapat sorotan.

Usia perempuan bahkan sering dikaitkan dengan penampilan, usia reproduksi, hingga anggapan tentang kemampuannya mendapatkan pasangan sebaya. Sementara itu, laki-laki yang berhubungan dengan perempuan lebih muda cenderung dianggap lebih lumrah.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com