- Indonesian Coalition for Financial Health merilis riset pada Kamis, 24 September 2026 di Jakarta.
- Riset tersebut mengungkapkan bahwa hanya sekitar empat dari sepuluh UMKM Indonesia yang memiliki kesehatan finansial memadai.
- Amartha bersama mitra meluncurkan program pelatihan serta pembiayaan guna memperkuat ketahanan dan pertumbuhan usaha UMKM.
Suara.com - Punya rekening, bisa mendapatkan pembiayaan, dan terbiasa mengatur pemasukan serta pengeluaran belum otomatis membuat sebuah usaha berada dalam kondisi finansial yang sehat.
Bagi pelaku UMKM di akar rumput, tantangan keuangan juga berkaitan dengan kemampuan menghadapi kondisi tak terduga, menjaga arus kas ketika pendapatan menurun, hingga memastikan usaha tetap bisa berkembang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam riset Financial Health Check-up yang dilakukan Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) terhadap lebih dari 1.800 responden di Indonesia.
Hasilnya menunjukkan, baru sekitar empat dari 10 UMKM yang diteliti berada dalam kondisi kesehatan finansial yang memadai. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan UMKM tidak berhenti pada soal akses terhadap layanan keuangan.
Head of Secretariat ICFH sekaligus Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan akses keuangan dan rasa percaya diri pelaku UMKM sudah cukup baik. Namun, kemampuan menghadapi guncangan dan mengembangkan usaha masih menjadi tantangan.
“Walaupun akses keuangan dan kepercayaan diri sudah bagus, namun kemampuan UMKM bertahan terhadap goncangan dan memiliki kemampuan bertumbuh masih rendah,” ujar Aria dalam forum Indonesian Coalition for Financial Health: The First Step Forward di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Ketika Omzet Turun, Apa yang Terjadi?
Dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan finansial pelaku usaha bisa diuji ketika muncul pengeluaran yang tidak direncanakan atau pemasukan tiba-tiba menurun.
Karena itu, kesehatan finansial tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh modal. Pelaku usaha juga perlu memiliki kemampuan mengelola kebutuhan keuangan sehari-hari, menghadapi risiko, serta mempertahankan usaha ketika terjadi guncangan.
Hal ini terutama menjadi perhatian bagi UMKM perempuan. Berdasarkan temuan Women's World Banking (WWB), inklusi keuangan memang telah memperluas akses perempuan terhadap pembiayaan, tetapi masih ada hambatan untuk membangun ketahanan finansial.
Agnes Salyanty, Sr. Research Lead Southeast Asia Women's World Banking, mengatakan perempuan pelaku UMKM umumnya sudah cukup disiplin dalam mengelola keuangan.
“Pola di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan UMKM adalah pengelola keuangan yang sangat disiplin. Namun, tantangan global yang juga terjadi di banyak negara berkembang adalah mayoritas produk keuangan dirancang untuk membiayai, belum melindungi,” ujarnya.
Menurut Agnes, kesehatan finansial perlu dilihat lebih luas, termasuk bagaimana produk dan kebijakan keuangan dapat membantu pelaku usaha menghadapi berbagai risiko yang muncul dalam keseharian.
Bukan Cuma Soal Pinjaman
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan finansial UMKM tidak selalu berakhir pada mencari tambahan modal.