Kenapa Weton Pahing Tidak Boleh ke Gunung Kawi?

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:15 WIB
ilustrasi weton (Suara.com/Ruth Meliana)
BACA 10 DETIK
  • Pemilik weton Pahing dihindurkan dari Gunung Kawi karena dikhawatirkan terjadi bentrok energi spiritual tradisional.
  • Pengelola dan pemerintah di Malang tidak pernah mengeluarkan larangan resmi bagi pemilik weton tertentu untuk berziarah.
  • Mitos larangan berdasarkan primbon tersebut tidak didukung oleh aturan agama maupun bukti ilmiah yang objektif.

Suara.com - Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sudah lama dikenal sebagai destinasi wisata religi yang sarat aura spiritual. Ribuan peziarah datang setiap tahun untuk berdoa di pesarean Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono.

Di tengah popularitasnya, muncul pertanyaan yang sering beredar di media sosial: kenapa weton Pahing dikatakan tidak boleh ke Gunung Kawi?

Kepercayaan terhadap weton atau kombinasi hari lahir menurut kalender Jawa memang masih kuat di sebagian masyarakat. Banyak orang menggunakan primbon untuk menentukan hari baik, kecocokan pasangan, hingga pantangan tertentu.

Salah satu yang kerap dibahas adalah anggapan bahwa pemilik weton Pahing sebaiknya menghindari kawasan Gunung Kawi. Isu ini semakin ramai dibicarakan setelah berbagai konten viral menyebut weton tertentu, termasuk Pahing dan Wage, memiliki pantangan.

Sebagian orang takut mengalami ketidaknyamanan atau “bentrok energi” jika tetap datang. Padahal, pertanyaan ini perlu dijawab secara bijak agar tidak menimbulkan ketakutan berlebihan.

Artikel ini akan mengupas alasan di balik mitos tersebut, karakter weton Pahing menurut kepercayaan Jawa, serta fakta sebenarnya. Mari kita bahas satu per satu agar pembaca mendapat pemahaman yang lebih lengkap dan seimbang.

1. Watak “Panas” Weton Pahing Menurut Primbon Jawa

Dalam filosofi Jawa, setiap pasaran memiliki karakter dan nilai neptu yang berbeda. Pahing sering digambarkan memiliki watak yang lebih “panas”, dinamis, dan penuh energi.

Sifat tersebut diyakini kurang selaras dengan suasana tirakat, meditasi, dan ketenangan yang kental di kawasan Gunung Kawi.

Oleh sebab itu, sebagian praktisi kejawen menyarankan pemilik weton Pahing untuk lebih berhati-hati atau menghindari kunjungan agar tidak terjadi ketidakcocokan energi spiritual.

2. Keyakinan tentang Bentrok Energi Spiritual

Gunung Kawi dipercaya memiliki aura spiritual yang kuat karena sejarah panjang sebagai tempat ziarah. Energi tempat ini dianggap lebih tenang dan sakral.

Sementara itu, energi weton Pahing yang lebih aktif dianggap berpotensi “bentrok”.

Ketidakselarasan ini, menurut kepercayaan lokal, bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman, mudah lelah, atau mengalami gangguan kecil setelah berkunjung. Inilah salah satu alasan utama munculnya pantangan tersebut.

3. Pengaruh Tradisi Lisan dan Penafsiran Primbon

Mitos ini berkembang melalui cerita turun-temurun dan penafsiran sebagian tokoh yang memahami primbon. Tidak ada kitab primbon baku yang secara tegas melarang weton Pahing ke Gunung Kawi.

Namun, interpretasi lisan tentang kecocokan weton dengan tempat sakral membuat keyakinan ini terus hidup di kalangan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi kejawen.

4. Tidak Ada Larangan Resmi dari Pengelola atau Pemerintah

Fakta penting yang perlu digarisbawahi: hingga kini tidak ada aturan resmi dari pengelola Pesarean Gunung Kawi maupun pemerintah yang melarang seseorang berdasarkan weton.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com