- Pemilik weton Pahing dihindurkan dari Gunung Kawi karena dikhawatirkan terjadi bentrok energi spiritual tradisional.
- Pengelola dan pemerintah di Malang tidak pernah mengeluarkan larangan resmi bagi pemilik weton tertentu untuk berziarah.
- Mitos larangan berdasarkan primbon tersebut tidak didukung oleh aturan agama maupun bukti ilmiah yang objektif.
Gunung Kawi terbuka untuk semua pengunjung tanpa memandang hari kelahiran. Ribuan peziarah dari berbagai latar belakang weton datang setiap tahun dan tidak mengalami masalah.
5. Tidak Dikenal dalam Ajaran Agama
Ajaran Islam, Kristen, Hindu, Buddha, maupun agama lain tidak mengenal larangan berziarah atau berdoa berdasarkan weton kelahiran. Siapa pun boleh datang dengan niat baik, baik untuk berdoa, bersyukur, maupun sekadar menikmati suasana alam.
Mitos weton lebih merupakan bagian dari kepercayaan tradisional Jawa, bukan ketentuan agama.
6. Lebih Banyak Mitos daripada Bukti Ilmiah
Tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan hubungan antara weton seseorang dengan kejadian buruk setelah mengunjungi Gunung Kawi.
Banyak peziarah dengan weton Pahing yang tetap datang tanpa mengalami gangguan. Pengalaman negatif yang diceritakan biasanya bersifat personal dan sulit dibuktikan secara objektif.
7. Saran Praktis bagi Pemilik Weton Pahing
Bagi yang masih percaya pada primbon, ada beberapa cara menyikapinya. Datang dengan niat yang tulus, jaga sikap sopan, dan hormati adat setempat.
Beberapa orang memilih datang pada hari tertentu atau didampingi juru kunci. Namun, intinya adalah ketenangan batin dan keyakinan pribadi, bukan rasa takut berlebihan.
Kesimpulannya, anggapan “weton Pahing tidak boleh ke Gunung Kawi” lebih tepat disebut mitos yang lahir dari penafsiran primbon Jawa tentang karakter energi. Tidak ada larangan resmi, baik dari pengelola, pemerintah, maupun agama. Gunung Kawi tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin berziarah dengan niat baik.