Melihat Dunia dari Sudut Pandang Berbeda, Bekal Penting Generasi Muda Hadapi Masa Depan

Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:33 WIB
Melihat Dunia dari Sudut Pandang Berbeda, Bekal Penting Generasi Muda Hadapi Masa Depan (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Sebanyak 312 peserta mengikuti Asia Youth International Model United Nations Cibubur Chapter 2026 di Trans Hotel Jakarta pada 26–27 September 2026.
  • Para peserta dari 165 sekolah dan universitas tersebut melakukan simulasi sidang diplomasi untuk membahas isu kemiskinan dan kecerdasan buatan.
  • Kegiatan yang dibuka oleh Sriyadi dan Presiden IGN Muhammad Fahrizal ini bertujuan melatih generasi muda memahami perspektif berbeda.

Suara.com - Masa depan tidak akan diisi oleh orang-orang yang selalu memiliki pandangan yang sama. Dunia nantinya akan mempertemukan generasi muda dengan perbedaan, mulai dari cara berpikir, latar belakang, budaya, hingga kepentingan yang dibawa masing-masing orang.

Untuk itulah, kemampuan untuk memahami perspektif yang berbeda menjadi salah satu bekal penting yang perlu dimiliki generasi muda saat ini. 

Bukan berarti harus selalu menyetujui pendapat orang lain, melainkan mampu mendengarkan, memahami alasan di balik sebuah pandangan, lalu mencari titik temu ketika menghadapi perbedaan.

Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang dibawa dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Cibubur Chapter 2026 yang berlangsung pada 26-27 September 2026 di Trans Hotel Jakarta.

Sebanyak 312 peserta dari 165 sekolah dan universitas mengikuti simulasi sidang diplomasi yang mempertemukan anak muda dari berbagai daerah. 

Dalam forum tersebut, mereka tidak hanya diminta menyampaikan pendapat, tetapi juga berhadapan dengan perspektif yang mungkin berbeda dari pemikiran mereka sendiri.

Presiden International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, mengatakan pengalaman seperti itu penting karena kemampuan yang dibutuhkan generasi muda tidak berhenti pada pencapaian akademik.

“Selama konferensi ini, kalian tidak hanya akan mewakili sebuah negara. Kalian akan belajar memahami perspektif yang mungkin berbeda dari perspektif kalian sendiri,” ujar Fahrizal dalam pidato pembukaan.

Peserta juga diajak melakukan riset mengenai persoalan global, mempertahankan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, bernegosiasi hingga bekerja sama mencari solusi. 

Proses tersebut membuat sebuah perbedaan pendapat tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dimenangkan, tetapi sebagai bagian dari proses memahami persoalan secara lebih luas.

Menurut Fahrizal, keterampilan tersebut pada akhirnya bukan hanya berguna dalam forum Model United Nations (MUN), tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini bukan hanya keterampilan dalam MUN. Ini adalah keterampilan hidup,” katanya.

Dalam AYIMUN Cibubur Chapter, peserta membahas isu yang cukup dekat dengan tantangan masa depan. Dua di antaranya adalah persoalan kemiskinan antargenerasi melalui dewan Economic and Social Council (ECOSOC) serta dampak integrasi kecerdasan buatan terhadap dunia kerja melalui International Labour Organisation (ILO).

Dari persoalan tersebut, peserta belajar bahwa satu masalah dapat memiliki banyak sisi. Kemiskinan, misalnya, tidak hanya berbicara mengenai kondisi ekonomi seseorang, tetapi juga dapat berkaitan dengan akses pendidikan, kesempatan kerja, kebijakan, dan kondisi sosial. 

Begitu pula perkembangan kecerdasan buatan yang tidak hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab dan masa depan tenaga kerja.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com