Food Waste Makin Mengkhawatirkan, Mengapa Sampah Makanan Bisa Picu Pemanasan Global?

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 15:20 WIB
Ilustrasi Food Loss and Waste. (dok. Pixabay)

Lebih dari 1 miliar makanan terbuang sia-sia setiap harinya. Hal ini diakibatkan dari kelebihan produksi, pembusukan, atau perencanaan makanan yang buruk.

Mengutip Food Waste Index Report United Nations Environment Programme (UNEP) 2024, sekitar 60 persen food waste berasal dari rumah tangga.

Penumpukan sampah yang terjadi menimbulkan permasalahan ganda. Jika dilihat dari aspek ketahanan pangan, membuang-buang makanan sama saja tidak memikirkan sekelompok orang yang mengalami kekurangan makanan.

Selain itu, sampah makanan yang menumpuk dan membusuk di tempat sampah akan menyumbang gas metana. Gas tersebut sangat berpengaruh terhadap kelangsungan atmosfer bumi sehingga terjadilah pemanasan global.

Sekarang ini dunia tengah sibuk mencari cara ampuh dalam menurunkan suhu bumi yang semakin panas. Salah satu fokusnya adalah ketahanan pangan.

Pada Juni 2026 lalu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres menggalakkan Seruan Aksi tentan Metana kepada semua negara dunia. Seruan tersebut berisi tiga sektor meliputi bahan bakar fosil, pertanian, dan limbah.

Secara khusus, PBB meminta negara-negara untuk mengatasi persoalan sampah.

Mulai dari menekan sampah organik dengan tidak membuang-buang makanan, tidak membiarkan sampah organik menumpuk begitu saja di tempat pembuangan akhir (TPA).

Selain itu, hentikan kebiasaan membuang dan membakar sampah sembarangan di ruang terbuka dan mulai mendaur ulang sampah makanan seperti mengubahnya menjadi kompos.

"Setiap makanan yang diselamatkan, dibagikan, atau tida pernah terbuang berarti makanan tersebut dimanfaatkan dengan lebih baik. Hal ini juga mencegah emisi gas metana," kata Direktur Divisi Perubahan Iklim di Program Lingkungan PBB (UNEP).

Menurut Krause, dengan mengurangi makanan yang terbuang dapat meringankan tekanan emisi metana terhadap Bumi.

Di samping itu, cara ini merupakan langkah praktis dan cenderung lebih hemat biaya untuk memperlambat pemanasan global.

Makanan yang Terbuang Dapat Memperparah Perubahan Iklim

Sekitar 10 persen dari total emisi gas rumah kacal global bersumber dari limbah makanan. Limbah tersebut dihasilkan mulai dari hasil panen yang busuk hingga makanan yang tidak habis dikonsumsi.

Besaran angka tersebut bahkan nyaris lima kali lipat dari emisi yang ditimbulkan pada sektor penerbangan.

Emisi yang dihasilkan pun berupa gas metana. Senyawa kimia tersebut mampu menahan panas 86 kali lipat lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu 20 tahun.

Karena terlalu kuat, gas tersebut jadi dalang di balik sepertiga dari total pemanasan global saat ini, ditambah salah satu pemicu utamanya adalah tumpukan sampah makanan yang terbuang.

Jika sisa-sisa makanan terlalu lama terkubur di permukaan tempat pembuangan sampah dan minim oksigen, bahan tersebut bercampur dengan mikroorganisme dan menghasilkan metana.

Meskipun tergolong polutan paling kuat, metana ini berumur pendek. Senyawa tersebut bisa hancur lebih cepat dibandingkan karbon dioksida. Di situlah celah penting untuk memberantas tejadinya peningkatan gas metana.

Dengan mengubah kebiasaan membuang-buang makanan, maka dampak positifnya bisa langsung dirasakan dalam beberapa puluh tahun ke depan. Ibaratnya seperti "rem darurat" untuk mengatasi pemanasan global.

Menekan Metana dengan Mencegah Pemborosan Makanan dari Awal

Mungkin cara paling efektif untuk mengurangi metana dari limbah makanan adalah dengan mencegah pemborosan makanan sejak awal.

Itulah tujuan dari Food Waste Breaktrough, mengurangi setengah limbah makanan pada 2030 sekaligus memangkas emisi metana hingga tujuh persen.

Bahkan beberapa negara sudah mempraktikkan cara ini. Contohnya Brasil dan Kenya.

Pemerintah Brasil, seperti ibukota Rio de Jenairo, lembaga lingkungan PBB mengajak kerja sama sekolah, warga, supermarket, dan restoran untuk meminimalisir makanan yang terbuang sia-sia.

Sementara, di Kenya sendiri melakukan gerakan mengumpulkan makanan sisa layak konsumsi dari perkebunan atau pasar. Prinsipnya adalah dari pada dibuang, makanan itu sebaiknya diberikan ke sekolah-sekolah di daerah marginal.

Bahkan jika sisa makanan tersebut terpaksa dibuang, lebih baik dipisahkan dengan benar. Selanjutnya dimanfaatkan sebagai kompos di tempat terbuka yang banyak oksigennya, sehingga sampah tersebut akan bertransformasi menjadi karbon dioksida.

Salah satu negara yang telah menerapkan langkah ini adalah Afrika. Lebih dari setengah sampah di kota adalah sampah organik.

Tidak heran jika pemerintah tersebut bekerja sama dengan UNEP untuk merangkul para pemulung, memberi pelatihan cara memilah sampah, dan mengajari cara membuat kompos.

Selain dijadikan kompos, ada cara alternatif yakni didaur ulang dengan memanfaatkan maggot yang dihasilkan dari black soldier fly (BSF). Di beberapa negara, dijumpai tempat pengembangbiakkan lalat ini.

Cara ini dinilai mampu menghasilkan efek positif. Misalnya, saat masih berbentuk larva, mereka akan memakan sampah organik tersebut, begitu dewasa, mereka mati dengan cepat dan bangkainya bisa diolah jadi pakan ternak yang kaya protein.

Dunia Perlu Sigap Mengatasi Food Waste and Loss

Berangkat dari keresahan tersebutlah, PBB menetapkan 29 September sebagai International Day or Awareness of Food Loss and Waste sejak 2019.

Hari yang diselenggarakan bersama UNEP dan FAO (Food and Agriculture Organization) ini jadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bahwa pemborosan makanan turut memberikan dampak terhadap keberlanjutan sistem pangan dan perubahan iklim.

"Meningkatkan upaya pencegahan pemborosan makanan secara cepat di tingkat internasional dapat menghasilkan pengurangan metana yang substansial, bahkan dalam dekade ini," pungkas Krause.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com