Viral Fenomena 'Blue Fire' di Papandayan, Mengapa Bisa Terjadi?

Senin, 05 Oktober 2026 | 15:49 WIB
Blue Fire Papndayan. (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Fenomena api biru di Gunung Papandayan Garut disebabkan oleh pembakaran gas belerang vulkanik.
  • Peningkatan suhu fumarol sejak tahun 2022 membuat gas belerang dapat terbakar secara spontan.
  • Pengunjung dilarang mendekati titik api karena paparan gas beracun serta kondisi tanah rapuh.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada 2022–2026 terdapat peningkatan fluks gas SO yang disertai kenaikan aktivitas gempa vulkanik dangkal.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan peningkatan suhu fumarol. Suhu yang sebelumnya sekitar 150 derajat Celsius meningkat menjadi sekitar 300–400 derajat Celsius.

“Pada suhu tersebut, gas HS dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat,” jelasnya.

Berbahaya jika Didekati

Popularitas blue fire di media sosial membuat fenomena tersebut berpotensi menarik lebih banyak pengunjung. Namun, Sonni mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati titik api atau lubang fumarol.

Gas vulkanik seperti SO dapat mengganggu sistem pernapasan. Selain itu, tanah di sekitar fumarol dapat rapuh dan tidak selalu aman untuk dipijak.

“Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa masker kain biasa tidak cukup untuk melindungi dari paparan gas vulkanik.

“Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh,” pungkasnya.
 

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com