Rempugan, Tradisi Perempuan Lebak Menjaga Warisan Pangan Leluhur

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:28 WIB
Potret dua wanita sedang menyaring gerabah dari beras. (dok. Pexels/Deddy Lynn)

Suara.com - Pagi berkabut menyelimuti Kasepuhan Pasir Eurih, Kabupaten Lebak, Banten. Di sebuah saung tradisional, bunyi alu yang beradu dengan lesung terdengar bersahutan ketika puluhan perempuan berkumpul untuk menumbuk padi melalui tradisi Rempugan.

Bagi masyarakat setempat, kegiatan ini bukan sekadar mengolah hasil panen menjadi beras. Rempugan juga menjadi bagian dari pengetahuan pangan lokal dan praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kasepuhan Pasir Eurih berada di kawasan pegunungan yang menjadi bagian dari ekosistem Halimun Salak. Kehidupan masyarakatnya berkaitan erat dengan lingkungan, termasuk melalui praktik pertanian dan pemeliharaan tradisi leluhur.

Di tengah perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi pertanian, perempuan memiliki peran penting dalam mempertahankan pengetahuan tersebut. Melalui Rempugan, mereka menjaga cara pengolahan padi yang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan, tetapi juga pelaksanaan ritual adat.

Perempuan Menjaga Pengetahuan Pangan Lokal

Rempugan merupakan tradisi gotong royong menumbuk padi secara manual menggunakan alu dan lesung. Kegiatan ini berlangsung di Saung Lisung, tempat masyarakat mengolah padi menjadi beras.

Dalam tradisi Kasepuhan Pasir Eurih, perempuan menjadi pelaku utama dalam proses penumbukan. Mereka berkumpul, bekerja bersama, dan menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan tenaga sekaligus koordinasi.

Dalam salah satu kegiatan Rempugan, sekitar 20 pocong atau ikat padi ditumbuk. Setiap ikat menghasilkan sekitar tiga hingga empat liter beras. Dengan proses yang berlangsung selama tiga hingga empat jam, para perempuan dapat menghasilkan sekitar 60 hingga 80 liter beras.

Beras tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga untuk keperluan ritual adat. Salah satunya adalah Rukun Tujuh, rangkaian tujuh tahapan pertanian tradisional berdasarkan ajaran leluhur.

Rangkaian tersebut mencakup tahapan Asup Leuweung hingga Seren Taun, yakni upacara syukur atas hasil panen. Dalam pelaksanaan ritual, masyarakat menggunakan Pare Gede, varietas padi lokal yang tumbuh di kawasan Kasepuhan.

Ketentuan ini memperlihatkan bahwa pangan memiliki kedudukan lebih luas dalam kehidupan masyarakat adat. Pengolahan padi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkaitan dengan nilai budaya dan keberlangsungan tradisi.

Mempertahankan Tradisi di Tengah Modernisasi
Perkembangan teknologi menghadirkan mesin penggiling padi yang dapat mempercepat proses pengolahan hasil panen. Namun, masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih tetap mempertahankan penumbukan manual untuk keperluan tertentu yang berkaitan dengan adat.

Bagi masyarakat setempat, padi tidak hanya dipandang sebagai sumber pangan. Proses pengolahannya juga memiliki makna spiritual dan menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur. Karena itu, alu dan lesung tetap memiliki tempat dalam praktik kehidupan mereka.

Rempugan juga menjadi ruang pertemuan bagi perempuan dari berbagai generasi. Ketika bekerja bersama, mereka berkesempatan meneruskan pengetahuan tentang pengolahan padi, penggunaan peralatan tradisional, serta kaitannya dengan ritual adat.

Praktik ini memperlihatkan hubungan antara pengetahuan lokal, pertanian, dan budaya pangan. Keberadaan Pare Gede dalam ritual, misalnya, menunjukkan bahwa varietas padi lokal memiliki posisi penting dalam sistem budaya masyarakat Kasepuhan.

Meski demikian, praktik penumbukan manual belum cukup untuk membuktikan bahwa metode tersebut lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi modern. Dampaknya terhadap lingkungan perlu dilihat bersama praktik pertanian, pengelolaan lahan, dan upaya mempertahankan varietas lokal.

Pada akhirnya, keberlanjutan Rempugan tidak hanya bergantung pada penggunaan alu dan lesung. Tradisi ini juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajari pengetahuan yang menyertainya.

Bagi perempuan Kasepuhan Pasir Eurih, Rempugan menjadi salah satu cara menjaga warisan leluhur tetap hidup, sekaligus mempertahankan hubungan antara pangan, kehidupan sosial, dan nilai-nilai adat.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com