Teknologi Mikroalga Diklaim Serap Karbon Setara 110 Pohon, Bagaimana Cara Kerjanya?

Senin, 12 Oktober 2026 | 14:14 WIB
Lahan hijau di tengah kawasan perkotaan. (dok. Pexels/Santasak Trirattanasak)

Suara.com - Terbatasnya ruang hijau menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam mengurangi emisi karbon di kawasan perkotaan. Di tengah masifnya aktivitas kendaraan bermotor, teknologi penangkap karbon berbasis mikroalga mulai dikembangkan sebagai alternatif untuk mendukung upaya dekarbonisasi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan PT Alam Semesta Integra mencoba mengembangkan teknologi tersebut melalui fotobioreaktor mikroalga bernama Oilimpus Apollo 1.0.

Perangkat ini didesain untuk menangkap karbon dioksida (CO2) dari udara dengan memanfaatkan kemampuan fotosintesis mikroalga.

Teknologi tersebut dikembangkan dalam rangka mendukung pengurangan emisi di lingkungan perkotaan tanpa perlu lahan seluas area penghijauan konvensional.

Sistemnya pun dirancang secara modular agar dapat ditempatkan di berbagai fasilitas publik maupun kawasan industri.

Kepala BRIN, Arif Satria menjelaskan bahwa pengembangan teknologi penangkapan karbon ini menjadi salah satu respons terhadap tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor di perkotaan.

"Pengembangan teknologi penangkapan karbon dioksida menjadi salah satu respons terhadap tingginya pertumbuhan kendaraan bermotot, khususnya di kawasan perkotaan seperti Jakarta," kata Arif dalam inaugurasi Pilot Project Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) Berbasis Fotobioreaktor Mikroalgae di Jakarta, Kamis (8/10).

Menurutnya, proyek percontohan tersebut direncanakan akan dipasang di kawasan BRIN Gatot Subroto pada 2026.

Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memboyong hasil penelitian keluar dari laboratorium sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan lingkungan.

Mengunggulkan Kemampuan Fotosintesis Mikroalga

Teknologi Olimpus Apollo 1.0 mengoptimalkan Spirulina plantesis, salah satu jenis mikroalga yang digunakan dalam proses penyerapan karbon. Organisme tersebut melakukan fotosintesis dengan memanfaatkan CO2 untuk memproduksi biomassa sekaligus melepaskan oksigen.

BRIN mengembangkan teknologi fotobioreaktor ini bahkan telah dilakukan sejak 2021 melalui prototipe FCB2022. pengembangannya meliputi strain mikroalga, formulasi medium pertumbuhan, serta pemantauan intensitas cahaya, pH, dan suhu secara real-time.

Direktur PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan menerangkan perangkat tersebut dirancang untuk menghadirkan solusi dekarbonisasi yang mampu diimplementasikan di kawasan dengan keterbatasan lahan hijau.

“Kami ingin menghadirkan solusi dekarbonisasi yang dapat diterapkan di kawasan perkotaan, ketika kebutuhan pengurangan emisi tinggi tetapi ketersediaan ruang hijau terbatas. Kolaborasi dengan BRIN menjadi penting untuk memastikan pengembangan teknologi memiliki fondasi riset yang kuat,” ujar Eddy.

Untuk penempatan ini bisa diletakkan di jalan protokol, kawasan industri, pusat perbelanjaan, hotel, hingga perkantoran. Dengan panjang sekitar empat meter, lebar satu meter, dan tinggi tiga meter, alat tersebut kira-kira membutuhkan ruang sekitar 2,5 meter persegi.

Jika dilihat dari segi sistemnya, teknologi tersebut akan menarik udara melalui empat sudut bagian bawah perangkat sebelum udara memasuki fotobioreaktor. Bahkan pengoperasiannya didukung oleh panel surya dan pasokan listrik dari PLN.

Klaim Penyerapan Karbon Melalui Verifikasi

Selain memanfaatkan mikroalga, teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT).

Sistem yang dikembangkan bersama Telkomsel ini menggunakan 14 unit sensor untuk mengukur parameter gas dan kualitas air setiap lima detiknya.

Data pengukuran dikirimkan melalui konektivitas IoT, kemudian diolah dan ditampilkan dalam dashboard. Pemantauan tersebut membantu dalam menyediakan informasi mengenai kondisi perangkat selama beroperasi.

Presiden Direktur PT TUV SÜD Indonesia, Yuan Bambang Handayana menjelaskan bahwa verifikasi dilakukan menggunakan standar ISO 14064-2 (GHG Project) pada 28 Juni 2026.

Melansir hasil verifikasi, satu unit perangkat diklaim memiliki kemampuan penyerapan karbon setara dengan 110 pohon mahoni berusia lebih dari 15 tahun.

Di sisi lain, kebutuhan lahan untuk perangkat disebut-sebut berkisar 2,5 meter persegi. Sebagai pembanding, pohon konvensional dengan kapasitas penyerapan yang diyakini setara tersebut tetap membutuhkan lahan sekitar 5.000 hingga 10.000 meter persegi.

Yuan menegaskan bahwa klaim kinerja penangkapan kabron ini perlu diperiksa oleh lembaga independen agar dapat dipertanggungjawabkan.

“Jadi alat ini berhasil menangkap atau mereduksi emisi klaim itu harus diverifikasi oleh third party organization, seperti TUV SUD," jelas Yuan.

Meski begitu, perbandingan kapasitas penyerapan tersebut tidak secara otomatis berarti teknologi dapat menggantikan seluruh fungsi pohon.

Vegetasi perkotaan turut memainkan peran penting dalam menyediakan habitat, membantu mengatur suhu, dan mendukung fasilitas lingkungan.

Ke depannya, Olimpus akan diproyeksikan untuk dapat dimaksimalkan bagi perusahaan publik maupun badan usaha milik negara guna mendorong program pengurangan emisi. Bahkan pengguna teknologi juga direncanakan akan mendapatkan laporan mitigasi emisi setiap bulan.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com