Terhimpit Sawit, Bagaimana Orang Rimba di Jambi Berjuang Kurangi Ketergantungan Pangan pada Pasar?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:28 WIB
Sumber: Estungkara/Hesti

Suara.com - Hutan yang dahulu menjadi sumber pangan Orang Rimba Rombong Ngilo kini berubah menjadi perkebunan sawit. Tanaman yang tumbuh di sana tak lagi bisa dimakan, sehingga keluarga yang sebelumnya mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kini harus membeli pangan di pasar.

Sebelum hutan menyempit, perempuan Rombong Ngilo berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Mereka mengumpulkan sayur, umbi, dan tanaman obat, sekaligus mewariskan pengetahuan lokal melalui praktik sehari-hari.

Namun, perubahan tutupan hutan membuat mereka semakin bergantung pada pasar. Kenaikan harga cabai dan sayuran langsung memengaruhi konsumsi keluarga. Hasil pertanian Orang Rimba pun kerap dihargai lebih rendah karena stigma sosial.

Kisah ini dituturkan Hesti Julianawati dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, sebagaimana dilansir Estungkara pada 23 Februari 2026.

Membangun Kembali Kebun Pangan

Bertani sebenarnya bukan hal baru bagi mereka. Pada 2020, sekolah lapang pertanian sempat menghasilkan panen yang cukup baik. Namun, akses pasar terbatas dan harga jual rendah membuat kegiatan tersebut akhirnya berhenti.

Pada November 2025, KKI Warsi kembali mendampingi warga menanam cabai dalam skala kecil, dengan tiga hingga lima polybag di setiap rumah. Dua pekan kemudian, hanya dua keluarga yang tanamannya berhasil berbuah. Tanaman lainnya rusak atau mati akibat dimakan sapi, terinjak anak-anak, dan tidak terlindungi jaring.

Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi bersama. Para perempuan menyampaikan kendala yang mereka hadapi, hingga muncul kesimpulan bahwa penanaman secara mandiri sulit bertahan. Mereka kemudian beralih ke sistem kebun kolektif.

Kebun Bersama untuk Mengisi Dapur

Kebun seluas sekitar 20 x 50 meter dibangun di sebelah gereja, menggunakan lahan hibah pemerintah desa. Laki-laki membantu membersihkan lahan, membajak, dan memasang jaring. Sementara itu, perempuan mengelola penanaman, perawatan, hingga menentukan waktu panen dan pembagian hasil.

Empat bedengan ditanami cabai, kangkung, bayam, dan jagung. Sebagian lahan lainnya digunakan untuk menanam ubi kayu. Tujuannya bukan untuk dijual, melainkan memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Perjalanannya tidak mudah. Tanaman jagung diserang hama, angin merobohkan batang, dan monyet merusak tanaman. Kangkung tumbuh kerdil, sedangkan bayam gagal tumbuh.

Panen pertama menghasilkan sekitar sepuluh ikat kangkung dan satu ember besar jagung. Dari 17 kepala keluarga, masing-masing membawa pulang dua ikat kangkung, cukup untuk konsumsi sekitar dua hari.

Bagi keluarga yang terkadang hanya makan satu hingga dua kali sehari, tambahan sayuran tersebut cukup berarti. Meski belum menggantikan pendapatan dari berondolan sawit, kebun bersama membantu mengurangi pengeluaran untuk membeli sayur.

Warga juga belajar dari kegagalan dengan mencoba daun bintaro sebagai pengendali hama alami dan memperbaiki teknik penanaman.

"Gak harus menanam yang besar terpenting hasilnya ada dulu," ujar Induk Rahana, sekretaris sekolah lapang.

Kebun ini belum mewujudkan kemandirian pangan sepenuhnya. Namun, kerja kolektif membuka ruang bagi perempuan untuk kembali menentukan kebutuhan pangan keluarga sekaligus melibatkan anak-anak dalam proses menanam.

Di tengah ketergantungan pada sawit yang belum teratasi, sepetak kebun menjadi langkah awal bagi Orang Rimba Rombong Ngilo untuk membangun kembali kendali atas pangan mereka sendiri.

Penulis: Inesia Dian

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com