- Budaya Jawa meyakini delapan weton tertentu memiliki energi batin khusus yang membuat ucapannya mudah menjadi kenyataan.
- Ucapan baik maupun amarah dari pemilik weton seperti Jumat Kliwon atau Selasa Wage berdampak nyata bagi lingkungan.
- Pemilik weton wajib menjaga lisan dan menahan diri saat marah agar tidak membawa dampak buruk bagi sesama.
6. Selasa Wage
Weton ini sering disebut “bermulut tuah”. Orang Selasa Wage dikenal jujur, sederhana, dan memiliki intuisi kuat. Doa yang keluar dari hati mereka diyakini lebih mudah terkabul karena ketulusannya.
Namun, kata-kata yang diucapkan saat marah juga dianggap memiliki daya yang sama kuatnya. Leluhur Jawa sering menasihati agar pemilik weton ini selalu menjaga lisannya.
7. Kamis Kliwon
Kombinasi hari Kamis yang dinamis dengan pasaran Kliwon menciptakan pribadi yang memiliki hubungan kuat dengan alam spiritual. Ucapan mereka sering dianggap sebagai perintah atau doa yang membentuk takdir.
Banyak yang percaya bahwa kata-kata Kamis Kliwon bisa memengaruhi lingkungan sekitar, baik secara positif maupun negatif, sehingga mereka disegani.
8. Sabtu Kliwon
Sabtu Kliwon dijuluki “lidah pemanggil takdir”. Apa yang mereka katakan, baik harapan maupun kekhawatiran, sering benar-benar terjadi. Ucapan negatif pun bisa menjadi nyata jika tidak dijaga.
Karena itu, pemilik weton ini dianjurkan memperbanyak ucapan baik agar energinya membawa keberkahan.
Kekuatan ucapan pada weton-weton di atas bukan berarti mereka memiliki kekuatan gaib yang bisa disalahgunakan. Dalam pandangan primbon Jawa, ini lebih merupakan frekuensi batin yang seirama dengan alam semesta. Semakin tulus dan penuh keyakinan sebuah ucapan, semakin besar kemungkinan ia terwujud.
Bagi pemilik weton-weton tersebut, menjaga lisan menjadi tanggung jawab besar. Mengucapkan hal-hal baik, mendoakan orang lain, dan menahan diri saat marah adalah cara terbaik memanfaatkan energi tersebut. Sementara bagi orang di sekitarnya, menghormati dan mendengarkan dengan bijak tetap menjadi sikap terbaik.