Inisiatif Pilah Sampah Warga Srengseng Sawah Bakal Tampil di Dutch Design Week 2026

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 10:31 WIB
Pembukaan pameran "Bukan Tentang Sampah" di Erasmus Huis pada Kamis, (5/2), Sumber: Netherlandsandyou.nl

Suara.com - Di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, warga mencoba membuktikan bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Lewat KOMPAK, memilah sampah plastik tak lagi sekadar urusan individu, tetapi menjadi gerakan bersama yang memberi manfaat bagi lingkungan dan komunitas.

Inisiatif yang melibatkan empat desainer Indonesia dan Belanda ini kini dibawa ke Dutch Design Week 2026 di Eindhoven, Belanda, untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam membangun kebiasaan memilah sampah bersama masyarakat.

Pameran bertajuk It's Not About Waste atau Bukan Tentang Sampah itu digelar di TAC, Eindhoven, pada 17-25 Oktober 2026 dan terbuka gratis. Sebelumnya, pameran ini telah tampil di Erasmus Huis, Jakarta, pada 5 Februari hingga 2 Mei 2026.

Berawal dari Persoalan yang Akrab
KOMPAK, singkatan dari Kolaborasi Masyarakat Pilah Oper Kemasan, lahir dari program Lab: Sustainable Waste yang digagas Dutch Design Foundation untuk Kedutaan Besar Belanda di Indonesia. Para desainernya, yakni Amelia Ade, Dhania Yasmin, Mayra Kapteiin, dan Noud Sleumer, bekerja sama dengan Wahu, organisasi pengelola jaringan pusat pengumpulan sampah.

Salah satu desainer menggambarkan kondisi yang mereka temui di lapangan. Indonesia memiliki alam yang indah, tetapi persoalan sampah masih terlihat di berbagai tempat.

"Indonesia negara yang sangat indah, tetapi sampah ada di mana-mana. Di banyak daerah belum ada sistem yang baik untuk mengumpulkan, memilah, dan membuang," ujarnya dalam video wawancara kanal Bukan Tentang Sampah pada Kamis (24/9).

Data yang dipaparkan penyelenggara pameran menunjukkan skala masalahnya. Kurang dari 50 persen sampah plastik di Indonesia terkumpul, dan diperkirakan hanya sekitar 10 persen yang didaur ulang. Plastik yang terkumpul pun kerap tercampur sehingga nilainya sebagai bahan daur ulang turun.

Setelah dua minggu melakukan riset lapangan, tim memutuskan berfokus pada pemilahan di tingkat rumah tangga. Mereka melihat tahap ini sebagai salah satu titik penting untuk memperbaiki pengelolaan sampah.

Pendekatan yang dipilih pun sengaja tidak menggurui. Alih-alih menambah beban moral kepada masyarakat, mereka ingin menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan yang mudah dilakukan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Kami tidak ingin menaruh beban moral dan tekanan di pundak orang. Kami ingin ini terasa sebagai hal yang ringan dan mudah dijangkau, dengan jarak ke titik pengumpulan yang sangat dekat," kata sang desainer.

Prinsip dasarnya sederhana: setiap orang menghasilkan sampah setiap hari sehingga setiap orang juga bisa mengambil peran dalam pengelolaannya.

"Kalau dilakukan bersama-sama, usahanya makin kecil dan dampaknya makin besar," ujarnya.

 

Pameran ini mendorong pengunjung untuk mengubah perspektif mereka, pameran ini menunjukkan bagaimana perubahan kolektif dalam pola pikir dapat mengubah perilaku, mengurangi limbah, dan menjaga nilai material tetap bergerak. Sumber: netherlandsandyou.nl

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui tiga langkah. Pertama, tas khusus untuk memilah sampah di rumah yang dirancang agar menarik sekaligus menjadi penanda aksi bersama. Kedua, grup WhatsApp untuk mengatur jadwal pengumpulan, memantau perkembangan, dan menampung kendala warga. Ketiga, tujuan bersama yang didukung sistem pengumpulan sampah daur ulang di lingkungan.

Alih-alih memberikan hadiah kepada individu, hasil penjualan plastik dikumpulkan untuk mewujudkan tujuan yang dipilih bersama oleh warga. Dengan begitu, manfaat dari kebiasaan memilah sampah tidak berhenti pada rumah masing-masing, tetapi juga kembali kepada komunitas.

Uji coba KOMPAK dilakukan bersama warga RT 011 RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di Eindhoven, pengunjung pameran bahkan bisa menyaksikan tayangan langsung dari titik pengumpulan sampah di lingkungan tersebut.

Melalui KOMPAK, persoalan sampah tidak hanya dilihat sebagai urusan membuang dan mendaur ulang material, tetapi juga sebagai kesempatan membangun kolaborasi. Perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar setiap individu. Ketika kebiasaan sederhana dilakukan bersama dan ditopang sistem yang memadai, dampaknya bisa dirasakan oleh komunitas yang lebih luas.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com