Apakah 180 BPM Normal saat Lari? Ini Cara Menghitung Heart Rate Sesuai Usia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:46 WIB
Smartwatch untuk Olahraga dengan Pengukur Detak Jantung atau heart rate (shopee.co.id)
BACA 10 DETIK
  • Detak jantung 180 BPM saat lari dapat terjadi akibat intensitas tinggi, tetapi belum tentu berbahaya bagi setiap orang.
  • American Heart Association menyatakan detak jantung maksimal dapat diperkirakan melalui rumus 220 dikurangi usia seseorang.
  • Pelari harus segera mencari pertolongan medis jika detak jantung tinggi disertai nyeri dada atau pusing berat.

220 − 30 = 190 BPM.

Dengan demikian, perkiraan detak jantung maksimal orang tersebut adalah 190 BPM.

Rumus ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk menentukan intensitas latihan. Namun, hasilnya tidak boleh dianggap sebagai angka maksimal yang pasti. Faktor kebugaran, kondisi kesehatan, dan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi respons detak jantung.

Tabel Zona Heart Rate Berdasarkan Usia

Setelah mengetahui perkiraan detak jantung maksimal, pelari dapat menghitung zona latihan berdasarkan persentase HR maksimal.

American Heart Association membagi intensitas latihan menjadi aktivitas sedang, sekitar 50–70 persen dari HR maksimal, dan aktivitas berat, sekitar 70–85 persen.

Berikut tabel perkiraan zona detak jantung berdasarkan usia.

UsiaHR MaksimalAktivitas Sedang (50–70%)Aktivitas Berat (70–85%)
20 tahun200 BPM100–140 BPM140–170 BPM
25 tahun195 BPM98–137 BPM137–166 BPM
30 tahun190 BPM95–133 BPM133–162 BPM
35 tahun185 BPM93–130 BPM130–157 BPM
40 tahun180 BPM90–126 BPM126–153 BPM
45 tahun175 BPM88–123 BPM123–149 BPM
50 tahun170 BPM85–119 BPM119–145 BPM
55 tahun165 BPM83–116 BPM116–140 BPM
60 tahun160 BPM80–112 BPM112–136 BPM

Sumber: American Heart Association. Angka merupakan perkiraan berdasarkan rumus HR maksimal = 220 − usia, bukan batas aman individual.

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa detak jantng 180 BPM berada di atas rentang aktivitas berat yang biasa digunakan sebagai panduan bagi banyak orang dewasa. Pengecualiannya perlu dinilai berdasarkan usia, kondisi fisik, dan hasil pengukuran yang lebih akurat.

Cara Menghitung Zona Heart Rate untuk Lari

Selain mengetahui detak jantung maksimal, pelari dapat menghitung zona latihan menggunakan persentase HR maksimal.

Berikut contoh perhitungan untuk orang berusia 30 tahun dengan perkiraan HR maksimal 190 BPM:

1. Zona 1 (50–60 persen): 95–114 BPM, untuk aktivitas ringan dan pemulihan.

2. Zona 2 (60–70 persen): 114–133 BPM, untuk membangun daya tahan aerobik.

3. Zona 3 (70–80 persen): 133–152 BPM, untuk latihan intensitas sedang hingga cukup berat.

4. Zona 4 (80–90 persen): 152–171 BPM, untuk latihan berat.

5. Zona 5 (90–100 persen): 171–190 BPM, untuk usaha sangat berat hingga mendekati maksimal.

Pembagian lima zona ini merupakan salah satu model latihan yang umum digunakan. Batas setiap zona bisa berbeda tergantung metode perhitungan dan perangkat olahraga yang digunakan.

Untuk pelari pemula yang ingin membangun daya tahan, latihan ringan hingga sedang dapat menjadi titik awal. Jangan memaksakan diri mengejar angka BPM tertentu jika tubuh belum terbiasa.

Cara Mengetahui Heart Rate Saat Berlari

Ada beberapa cara untuk memantau detak jantung selama berolahraga, antara lain:

1. Menggunakan smartwatch

Jam olahraga biasanya memiliki sensor optik yang membaca perubahan aliran darah pada pergelangan tangan. Pastikan jam terpasang dengan pas agar pembacaan lebih konsisten. Gerakan tangan, posisi jam, dan keringat dapat memengaruhi hasil pengukuran.

2. Menghitung denyut nadi secara manual

Jika tidak menggunakan smartwatch, pelari dapat memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Hitung denyut selama 30 detik, kemudian kalikan dua untuk mendapatkan perkiraan BPM. Lakukan saat berhenti dengan aman karena pengukuran ketika masih berlari bisa kurang akurat.

3. Menggunakan tes bicara

Selain mengandalkan angka, perhatikan kemampuan berbicara ketika berlari. Jika masih bisa berbicara dalam kalimat lengkap, intensitas latihan umumnya masih ringan hingga sedang. Jika hanya mampu mengucapkan beberapa kata sebelum mengambil napas, intensitasnya cenderung berat.

Tes bicara bukan pengganti pengukuran medis, tetapi bisa menjadi panduan praktis untuk mengatur kecepatan lari.

Kapan Heart Rate Tinggi Saat Lari Perlu Diwaspadai?

Detak jantung meningkat ketika berolahraga merupakan respons tubuh yang normal. Namun, pelari perlu memperhatikan jika detak jantung melonjak tinggi saat aktivitas ringan, terasa tidak teratur, atau tidak turun secara bertahap setelah intensitas latihan dikurangi.

Suhu udara panas, dehidrasi, kurang tidur, stres, kafein, dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi detak jantung.

Jika pembacaan smartwatch terasa tidak sesuai dengan kondisi tubuh, periksa kembali posisi perangkat dan ukur denyut nadi secara manual saat berhenti dengan aman. Jika detak jantung tinggi berulang saat aktivitas ringan, konsultasikan dengan tenaga medis.

Bagi orang yang memiliki penyakit jantung atau menggunakan obat yang memengaruhi detak jantung, target latihan sebaiknya ditentukan bersama tenaga kesehatan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com