Mengenal Operasi Modifikasi Cuaca Bobby Nasution Demi Usir Asap Karhutla di Sumut

Senin, 19 Oktober 2026 | 10:05 WIB
Hujan ringan mengguyur wilayah Pekanbaru dan sekitarnya di tengah kondisi kabut asap karhutla, Senin (21/9/2026). [Suara.com/Eko Faizin]
BACA 10 DETIK
  • Bobby Nasution menggelar modifikasi cuaca guna mengatasi bencana kabut asap.
  • Penyemaian garam berhasil memicu hujan lebat untuk memperbaiki kualitas udara.
  • Teknologi modifikasi cuaca kini berkembang menjadi instrumen penting mitigasi bencana.

Suara.com - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang sempat menyelimuti wilayah Sumatera Utara mulai teratasi. 

Langkah cepat diambil Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah komando Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution dengan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memancing turunnya hujan.

Hasilnya, hujan deras mengguyur sejumlah kawasan seperti Kota Medan, Binjai, hingga Deli Serdang pada Sabtu (17/10/2026). Sehingga, pekatnya kabut asap mulai menipis dan kualitas udara berangsur membaik.

Lantas, apa sebenarnya Operasi Modifikasi Cuaca itu yang dilakukan menantu Jokowi tersebut?

Operasi Modifikasi Cuaca. (dok. BPBD DKI Jakarta)

Operasi 3 Hari Garapan Bobby Nasution

Upaya penanganan polusi asap di Sumut berlangsung intensif selama tiga hari, terhitung sejak Jumat (16/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026).

Dalam misi ini, armada pesawat Cessna Caravan 208 dikerahkan langsung dari Terminal Kargo Bandara Internasional Kualanamu. 

Pesawat tersebut terbang menyisir langit untuk menyemaikan serbuk Natrium Klorida (NaCl) alias garam dapur khusus ke dalam gumpalan awan potensial demi merangsang terjadinya proses kondensasi dan presipitasi (hujan).

Penyemaian awan mulanya difokuskan di kawasan Medan, Binjai, Deli Serdang (Mebidang), kawasan Danau Toba, serta Kabupaten Asahan, sebelum akhirnya diperluas secara bertahap ke area lain di Sumatera Utara yang terdampak karhutla.

Mengenal Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)

Istilah modifikasi cuaca belakangan kian akrab di telinga masyarakat, terutama saat kemarau ekstrem melanda atau ketika ancaman karhutla mengintai.

Mengutip data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) merupakan bentuk campur tangan manusia dalam mengendalikan sumber daya air di lapisan atmosfer. 

Melalui pemanfaatan parameter cuaca, teknologi ini bertujuan untuk menambah (mempercepat) atau mengurangi intensitas curah hujan di suatu wilayah demi meminimalkan potensi bencana hidrometeorologi.

Bentuk modifikasi cuaca yang paling umum diterapkan adalah cloud seeding (penyemaian awan). 

Partikel garam berfungsi sebagai inti kondensasi higroskopis yang mempercepat penggabungan butir-butir air di awan hingga cukup berat untuk jatuh ke bumi sebagai rintik hujan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com