Suara.com - Penurunan populasi serangga penyerbuk tidak sekadar mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga kesehatan manusia. berkurangnya penyerbukan bisa menekan produksi pangan bergizi sekaligus memperparah risiko penyakit akibat pola makan yang kurang sehat.
Berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam laman The Guardian telah memproyeksikan hilangnya serangga penyerbuk secara global ini ada kaitannya dengan sekitar 500.000 kematian dini setiap tahunnya.
Dampak tersebut timbul akibat berkurangnya pasokan buah, sayuran, dan kacang-kacangan yang sangat penting bagi pola makan sehat.
Di sisi lain, penelitian yang dipimpin oleh tim peneliti dari Universitas Bristol memperlhatkan bahwa penyerbuk juga mempunyai peran penting dalam menjaga kecukupan gizi dan pendapatan keluarga petani.
Kedua temuan ini sama-sama menyoroti bagaimana penurunan keanekaragaman hayati dapat merembet ke persoalan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Hilangnya Penyerbuk Ada Kaitannya dengan Risiko Penyakit
Sekitar tiga perempeat jenis tanaman membutuhkan penyerbukan. Namun, banyak populasi serangga penyerbuk mengalami penurunan tajam.
Fenomena ini sangat berdampak pada produksi berbagai komoditas pangan. Penelitian itu memproyeksikan bahwa penyerbukan yang tidak memadai menyebabkan kehilangan produksi buah sebesar 4,7 persen; sayuran 3,2 persen, dan kacang-kacangan sekitar 4,7 persen.
Dengan berkurangnya produksi pangan dapat memengaruhi pola makan masyarakat. Ketika pasokan buah, sayuran, dan kacang-kacangan menurun, konsumsi makanan bergizi berisiko ikut berkurang.
Para peneliti mengaitkan perubahan produksi pangan dengan pola konsumsi dan risiko kesehatan masyarakat. Dalam kajiannya, mereka memperhitungkan penyakit jantung, stroke, diabetes, serta beberapa jenis kanker yang risikonya dapat diminimalisir melalui pola makan lebih sehat.
Seorang penulis senior penelitian tersebut, Dr. Samuel Myers dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, menyoroti relasi antara keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia.
"Salah satu hal penting yang hilang dalam diskusi tentang keanekaragaman hayati adalah kurangnya keterkaitan langsung dengan kesehatan manusia," kata Myers.
Ia memaparkan bahwa hilangnya penyerbuk telah berdampak pada kesehatan dalam skala yang setara dengan sejumlah faktor risiko kesehatan global lainnya.
Penelitian tersebut bahkan menemukan dampak kesehatan yang besar di sejumlah negera berpenghasilan menengah, termasuk Indonesia, Tiongkok, India, dan Rusia.
Dari negara-negara tersebut, penyakit tidak menular menjadi salah satu permasalahan kesehatan bagi masyarakat.
Para peneliti memprediksi estimasi kematian tersebut masih konservatif. Perhitungan mereka belum memasukkan seluruh dampak kekurangan mikronutrien, seperti vitamin A dan folat, maupun gangguan kesehatan akibat hilangnya pendapatan petani.
Penyerbuk Menopang Gizi dan Pendapatan Petani
Ancaman terhadap kesehatan manusia turut tersorot dalam penelitian yang diketuai oleh Universitas Bristol di Nepal. Studi itu menganalisis interaksi serangga penyerbuk liar, hasil panen, pola makan, dan pendapata masyarakat di sepuluh desa pertanian.
Ditemukan bahwa serangga penyerbuk berkontribusi sebesar 44 persen pendapatan pertanian masyarakat. Penyerbuk juga mendukung lebih dari 20 perse asupan vitamin A, folat, dan vitamin E keluarga yang diteliti.
Dari temuan itu memperlihatkan pentingnya serangga penyerbuk bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada pertanian skala kecil.
Ketika populasi penyerbuk menurun, produksi tanaman yang bergantung pada penyerbukan berpotensi mengalami gangguan.
Akibatnya, keluarga petani mengalami risiko kehilangan pendapatan sekaligus berkurangnya akses terhadap pangan bergizi.
Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat memperburuk kerentanan terhadap kekurangan zat gizi dan masalah kesehatan.
Penulis utama studi dari Universitas Bristol, Dr. Thomas Timberlake, menekankan bahwa keanekaragaman hayati merupakan kebutuhan mendasar manusia.
"Studi kami menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati bukanlah suatu kemewahan, melainkan hal mendasar bagi kesehatan, nutrisi, dan mata pencaharian kita," tutur Timberlake.
Penelitian di Nepal turut meninjau risiko kekurangan gizi pada anak-anak. Salah satu peneliti dari University College London Institute for Global Health, Dr. Naomi Saville menjelaskan bahwa lebih dari setengah anak dalam penelitian tersebut memiliki tinggi badan di bawah rata-rata dari seusianya.
Menurut Saville, pola makan yang buruk menjadi salah satu faktor penting dalam kondisi tersebut. Penurunan penyerbuk berpotensi memperparah asupan vitamin dan gizi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang.
Praktik Ramah Penyerbuk Bisa Jadi Solusi
Kedua penelitian tersebut membuktikan pentingnya menjaga keberadaan serangga penyerbuk untuk menjamin ketahanan pangan maupun kesehatan.
Melalui pemulihan populasi penyerbuk juga berpotensi mendukung produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani.
Myers menyebut sejumlah upaya dapat membantu memulihkan populasi penyerbuk, mulai dari meningkatkan jumlah bunga di lahan pertanian hingga mengurangi penggunaan pestisida.
"Ini termasuk meningkatkan kelimpahan bunga di lahan pertanian, mengurangi penggunaan pestisida, dan melestarikan maupun memulihkan habitat alami di sekitarnya," tekan Myers.
Dengan melakukan penanaman bunga liar dapat memfasilitas sumber makanan bagi serangga penyerbuk. Sementara itu, pengurangan penggunaan pestisida dan perlindungan habitat alami dapat membantu meminimalisir tekanan terhadap populasi mereka.
Sebab, perlindungan serangga penyerbuk bukan sekadar bertumpu pada upaya mempertahankan keanekaragaman hayati. Langkah tersebut juga berpotensi membantu menjaga produksi pangan bergizi, mengurangi risiko kekurangan gizi, hingga menopang pendapatan keluarga petani.
Untuk itulah memulihkan hubungan antara pertanian dan ekosistem menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga sistem pangan yang mendukung kehidupan manusia.
Penulis: Chairunisa