- Kelelahan kerja menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko bahaya pada pekerjaan berisiko tinggi seperti sektor pertambangan.
- Perusahaan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mengolah informasi kondisi operator sebagai dukungan pemantauan keselamatan kerja.
- Pengelolaan kelelahan diatur dalam regulasi nasional dan standar internasional ISO 45001:2018 untuk mencegah kecelakaan.
Pengelolaan kelelahan juga tercakup dalam pedoman keselamatan pertambangan, termasuk Kepdirjen Minerba No. 185.K/30/DJB/2019. Pedoman tersebut berkaitan dengan identifikasi penyebab kelelahan dan upaya memastikan pekerja berada dalam kondisi yang sesuai untuk bekerja.
Selain regulasi, organisasi dapat menggunakan ISO 45001:2018 sebagai acuan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Standar internasional ini menyediakan kerangka untuk mengidentifikasi bahaya, menilai dan mengendalikan risiko, serta melakukan perbaikan berkelanjutan.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan solusi pengelolaan keselamatan kerja berbasis AI, Goodeva Smartsafety, menyatakan telah meraih sertifikasi ISO 45001:2018.
“Pengelolaan K3 membutuhkan sistem yang mampu mengidentifikasi dan mengendalikan berbagai risiko secara konsisten. Fatigue menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan, terutama pada aktivitas dengan tingkat risiko tinggi,” ujar Chief Marketing Officer Goodeva Smartsafety, Ignasius Pristya.
Ia menambahkan, AI dapat membantu mengolah informasi yang sebelumnya sulit dikelola secara manual. Namun, penerapan teknologi tetap perlu didukung sistem manajemen yang terstruktur agar dapat digunakan secara konsisten di lingkungan operasional.
Pada akhirnya, menjaga keselamatan kerja tidak cukup hanya dengan mengandalkan perlengkapan pelindung atau mengingatkan pekerja agar berhati-hati. Mengenali kelelahan, mengelola faktor risikonya, dan memastikan prosedur keselamatan berjalan dengan baik juga menjadi bagian penting dari upaya mencegah kecelakaan.