Berapa Heart Rate Normal Saat Lari? Ini Penjelasan Dokter Tirta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 18:24 WIB
Ilustrasi lari (Pexels/runffwpu)
BACA 10 DETIK
  • Heart rate menjadi salah satu hal yang diperhatikan saat berlari.
  • Dokter Tirta membahas patokan untuk menilai intensitas latihan.
  • Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan detak jantung saat berolahraga.

Suara.com - Berapa heart rate normal saat lari menjadi salah satu hal yang kerap dipertanyakan. Untuk memperkirakannya, ada rumus yang umum digunakan.

Heart rate atau detak jantung merupakan jumlah denyut jantung dalam satu menit yang biasanya diukur dalam satuan beats per minute (bpm).

Detak jantung dapat meningkat seiring bertambahnya intensitas latihan, tetapi batas kemampuan setiap orang berbeda, bergantung pada usia, tingkat kebugaran, dan kondisi kesehatan.

Lantas, berapa heart rate normal saat lari dan bagaimana cara memperkirakan batas maksimalnya? Berikut penjelasan Dokter Tirta dan informasi selengkapnya.

Heart rate atau detak jantung merupakan salah satu indikator yang kerap dipantau untuk mengenali respons tubuh selama berolahraga.

Ilustrasi lari (Dok. Istimewa)

Penjelasan Dokter Tirta tentang Heart Rate Saat Lari

Dalam siniar bersama Samuel Crist yang diunggah sekitar 2 tahun lalu, Dokter Tirta menjelaskan bahwa salah satu patokan sederhana untuk menilai intensitas lari adalah kemampuan berbicara tanpa terengah-engah.

"Pada dasarnya adalah orang zaman dulu itu patokannya adalah kamu ngos-ngosan atau enggak? Kalau kamu lari itu enggak ngos-ngosan, bisa sambil ngomong, itu fun berarti. Nah, kalau latihan harus kayak gitu," ujar Dokter Tirta, dikutip pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Ia menambahkan bahwa orang yang terus-menerus terengah-engah saat berlatih perlu memperhatikan kondisi jantungnya.

"Tapi, kalau latihan ngos-ngosan terus, ya enggak apa-apa, bisa saja, tapi jantungmu harus dicek dulu, berisiko atau enggak?" lanjutnya.

Dokter Tirta kemudian menjelaskan tengtang batas maksimal heart rate atau detak jantung. Ia menyebut angka tersebut berbeda pada setiap orang.

"Beda-beda per usia, beda-beda tergantung usia, tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, dan ada riwayat penyakit atau enggak," jelasnya.

Dokter Tirta kemudian menyebut rumus yang umum digunakan untuk memperkirakan detak jantung maksimal, yakni 220 dikurangi usia.

Namun, ia menegaskan bahwa rumus tersebut merupakan patokan awam, bukan acuan medis yang bisa menentukan batas aman setiap individu secara pasti.

"Tapi, pada normalnya adalah rumus yang sering digunakan secara awam, ini bukan medis ya tapi awam, 220-usia. Misal aku usia 33 tahun, berarti sekitar 187," tuturnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com