- Pendiri Bali Waste Cycle, Olivia Padang, menyatakan sistem pengelolaan sampah di Bali belum terhubung dengan baik antarbagian.
- Sektor pariwisata menyumbang 41 persen sampah di Bali dan harus bertanggung jawab hingga tahap penggunaan produk daur ulang.
- Bali Waste Cycle berpartisipasi dalam program PepsiCo untuk mengeksplorasi pasar dan memperkuat konsistensi pengolahan material sampah.
Suara.com - Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia dengan deretan hotel, restoran, kafe, dan tempat hiburan. Namun, tingginya aktivitas pariwisata juga menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Persoalannya, sampah yang sudah dikumpulkan dan dipilah belum tentu berakhir sebagai material daur ulang.
Olivia Padang, pendiri Bali Waste Cycle (BWC), menilai pengelolaan sampah di Bali mengalami perkembangan dibandingkan ketika ia mulai berkecimpung di bidang tersebut pada 2019. Kesadaran masyarakat meningkat, fasilitas pengelolaan bertambah, dan keterlibatan pemerintah serta operator swasta semakin kuat.
Meski begitu, ia melihat masih ada persoalan mendasar: berbagai bagian dalam sistem pengelolaan sampah belum terhubung dengan baik.
“Sampah mungkin bisa dikumpulkan, tetapi fasilitas pengolahannya mungkin tidak memiliki kapasitas yang memadai. Sebuah fasilitas bisa saja punya mesin, tetapi pasokan materialnya tidak konsisten,” kata Olivia.
Persoalan semakin rumit ketika material yang berhasil dikumpulkan tidak memiliki pasar yang jelas. Akibatnya, sampah yang sudah dipilah tetap berisiko menjadi residu karena tidak ada pihak yang bersedia menyerap hasil pengolahannya.
Plastik Sachet Lebih Sulit Dikelola
Salah satu tantangan terbesar adalah sampah plastik bernilai ekonomi rendah, seperti kemasan makanan ringan, sachet, dan plastik multilapis.
Berbeda dengan botol plastik PET yang relatif memiliki pasar daur ulang, kemasan fleksibel membutuhkan proses pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan yang tidak selalu sebanding dengan nilai material yang dihasilkan.
“Begitu suatu bahan keluar dari sistem produktif, kita rugi dua kali lipat. Kita harus keluar uang untuk mengurus sampahnya, dan di saat yang sama kita kehilangan potensi nilai dari bahan itu sendiri,” ujar Olivia.
Kondisi tersebut membuat plastik bernilai rendah lebih berisiko berakhir sebagai residu, dibakar, mencemari lingkungan, atau dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Menurut Olivia, tantangan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengajak masyarakat memilah sampah. Harus ada jalur pengolahan yang sesuai dan pengguna akhir yang bersedia memanfaatkan material daur ulang.
Pariwisata Punya Peran di Hulu dan Hilir
Industri pariwisata menjadi bagian penting dari persoalan sampah Bali karena aktivitas hotel, restoran, kafe, vila, dan berbagai usaha pendukungnya menghasilkan sampah dalam jumlah besar.
Olivia mengutip data Pemerintah Provinsi Bali yang menyebut sekitar 41 persen persoalan sampah berkaitan dengan sektor HORECA, yakni hotel, restoran, dan kafe.
Menurutnya, tanggung jawab pelaku pariwisata tidak seharusnya berhenti pada penyediaan tempat sampah terpilah atau program kebersihan di area usaha. Mereka juga perlu mengetahui ke mana sampah yang diangkut dari tempat mereka berakhir.