-
Teknologi dan gim seperti Minecraft bisa dimanfaatkan sebagai media belajar STEM yang menyenangkan.
-
Bus listrik menjadi kelas keliling yang membawa tablet, materi digital, dan alat praktik ke sekolah dengan fasilitas terbatas.
-
Anak diajak belajar sains dan matematika secara interaktif sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis.
Selain media digital, pembelajaran juga dilengkapi dengan berbagai alat praktik, kerajinan tangan, board game, serta permainan kartu.
Guru pun mendapatkan bimbingan dan kesempatan membentuk komunitas praktisi untuk mendukung penerapan pembelajaran STEM di sekolah.
Menariknya, seluruh pengalaman belajar tersebut dibawa langsung ke sekolah melalui satu unit bus listrik yang berfungsi sebagai kelas keliling.
Bus tersebut akan mengunjungi sekolah setiap minggu, terutama sekolah yang masih memiliki keterbatasan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Di dalamnya tersedia komputer tablet dan berbagai bahan ajar yang dapat digunakan siswa untuk mengikuti kegiatan pembelajaran digital maupun praktik langsung.
Proyek yang berlangsung selama 12 bulan, dari Oktober 2026 hingga Oktober 2027, ini menargetkan 1.300 siswa kelas delapan dan 130 guru di 13 SMP.
Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan bukan sekadar soal memberikan gadget kepada anak. Yang lebih penting adalah menghadirkan pengalaman belajar yang membuat mereka aktif berpikir, mencoba, bertanya, dan memahami bagaimana teknologi bekerja di sekitar mereka.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi dapat menjadi jembatan bagi anak untuk mengenal STEM sejak dini sekaligus membantu menciptakan kesempatan belajar yang lebih setara, termasuk bagi mereka yang bersekolah dengan fasilitas terbatas.