/
Selasa, 22 November 2022 | 13:57 WIB
Suara.com/Yaumal

Kematian satu keluarga di Perumahan Citra Garden, Blok AC5/7, RT 07/15  Kalideres, Jakarta Barat, masih membuat penasaran banyak orang. Pasalnya, misteri kematiannya belum terungkap.

Publik menduga-duga penyebab kematian mereka. Ada yang berpendapat bahwa  mereka tewas karena kelaparan. Ada juga yang menduga karena sengaja bunuh diri berjamaah sampai dengan dugaan penganut sekte sesat.

Terbaru, seorang warganet menyebutkan sebuah teori konspirasi kematian 4 korban tersebut. Korban adalah kakek Rudianto, istrinya Margaret (58) dan putri mereka, Dian (40), dan iparnya yang bernama Budianto (68) ditemukan tewas dalam rumah tersebut.

Diduga Meninggal Karena Racun Bedak Bayi

Warganet yang tidak disebutkan namanya ini mengatakan bahwa, korban kemungkinan besar meninggal karena racun bedak bayi.

"Saya mengikuti berita di Internet, dan dikatakan bahwa di TKP banyak ditemukan bon bedak bayi. Bedak bayi (talcum powder) memiliki komposisi kimia MgSiO(OH), dan merupakan moisture adsorbent yang baik, dalam arti menyerap air dan kelembaban. Namun, mineral Mg dan Si ini dapat dilacak, diidentifikasi, dan dikonfirmasi oleh Forensik dengan mudah," katanya dikutip dari laman Quora pada Selasa, (22/11/2022).

Menurut dia ada bedak bayi dari produsen tertentu yang menggunakan corn starch (pati jagung). Produk bedak bayi versi lama dinilai kurang aman bagi kesehatan, sehingga dipakai yang lebih 'bersahabat', dengan menggunakan bahan baku alami.

Hubungannya?

Racun tikus generasi terbaru merupakan racun tikus yang aman, karena tidak benar-benar beracun. 

Baca Juga: Isran Noor Tahan Tangis, Tak Bisa Bayangkan Nasib Honorer Jika Dihapus: Bagaimana Ini Ceritanya

Racun tikus ini menggunakan corn gluten, yang akan menyerap air di saluran pencernaan, lalu mengembang memenuhi rongga usus, makin lama makin banyak menyerap air, makin mengembang mengakibatkan rasa kenyang sekaligus dehidrasi pada saat yang sama.

"Ada benang merah antara racun tikus dan bedak bayi generasi terbaru, bahannya mirip-mirip," jelasnya.

Media menginformasikan, keempat jenazah tersebut dalam keadaan kering. Spekulasi bahwa korban meninggal karena puasa (tidak makan) sebagaimana dinyatakan di TV itu tak bisa diterima.

"Kalau mati dehidrasi di Gurun Sahara atau karena terdampar di laut saya masih bisa terima tanpa protes. Saya lebih percaya kalau korban meminum sejenis racun yang menyebabkan dehidrasi. Dan ada 'celah' untuk mendukung teori saya ini," katanya.

Dia mengungkap, bahwa jika bedak bayi 'model lama' yang dimakan, maka akan ada residu Mg dan Si yang bisa diidentifikasi dan dikonfirmasi.

Sementara, jika bedak bayi yang diduga dipakai bunuh diri korban adalah yang 'generasi baru' yang lebih eco-friendly, maka kemungkinan tak ada jejak yang tersisa.

"Jika teori saya benar, bahwa bedak bayi yang 'dikonsumsi' untuk bunuh diri ini dari kategori BIO dan bukan kimia, maka residu bedak tersebut bisa saja 'dimakan' oleh mikroba usus, seperti katakanlah yeast Candida albicans atau bakteri dari jenis lainnya. Akibatnya, ya, tak ada jejak," jelasnya.

Fakta-fakta Satu Keluarga Tewas di Kalideres

Keempat Jenazah ditemukan di Tempat yang Berbeda

Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat, Kompol Haris Kurniawan, menyebut bahwa keempat jenazah ditemukan di lokasi yang berbeda.

Satu jenazah ditemukan di kamar belakang, satu jenazah di ruang tamu, dan dua jenazah lainnya ditemukan di kamar tengah.

Tidak Ditemukan Tanda-tanda Kekerasan

Berdasarkan penuturan dari Kanit Kriminal Umum Polres Jakarta Barat, AKP Avrilendy, ia menyebut bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dari jenazah satu keluarga di Kalideres. Bahkan, pihaknya juga menyebut tidak ada luka pada tubuh korban.

Polisi pun mengamankan sejumlah barang bukti dari Tempat Kejadian Perkara (TKP). Barang bukti tersebut berupa baju korban, ponsel, buku rekening, hingga buku catatan. Adapun keempat jenazah tersebut telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan autopsi.

Hasil Forensik: Tidak Ada Penganiayaan

Fakta mencuat setelah Dokter Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati mengungkap bahwa pihaknya tidak menemukan bekas luka penganiayaan pada empat jenazah yang ditemukan di dalam rumah tersebut.

Hal tersebut berdasarkan pada hasil pemeriksaan tim dokter forensik terhadap keempat jasad tersebut.

Lebih lanjut, Kapolsek Kalideres, AKP Syafri Wasdar menyebut bahwa berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh Unit Reskrim Polsek Kalideres diketahui bahwa korban merupakan pasangan suami istri, anak perempuan dan adik laki-laki dari sang suami.

Lambung dari Mayat Tidak Berisi Makanan

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pasma Royce menyebut bahwa berdasarkan pemeriksaan, lambung dari mayat tersebut tidak berisi makanan. Hal tersebut dilihat dari otot-ototnya yang sudah mengecil.

Keempat jenazah yang diketahui terdiri dari Rudianto 71 tahun (suami), Margaret 58 tahun (istri), Dian 40 tahun (anak) dan Budianto 68 tahun (ipar) sudah tidak menerima nutrisi sejak tiga minggu lalu.

Tidak Tewas dalam Waktu yang Bersamaan

Diketahui, kematian keempat jenazah tersebut tidak dalam waktu yang bersamaan. Ada dari salah satu jenazah yang tewas lebih dulu berdasarkan hasil pemeriksaan. Hal tersebut dilihat dari kondisi jenazah yang sudah hampir menjadi tulang belulang.

Ada yang Sudah Meninggal sejak Mei

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi mengungkap temuan terbaru terkait kasus satu keluarga tewas di Kalideres, Jakarta Barat. Diduga ada salah satu penghuni sudah meninggal sejak bulan Mei 2022.

Hengki mengatakan awalnya ada 5 orang datang yang hendak membeli rumah di TKP penemuan satu keluarga tewas, di Perumahan Citra Garden. Kelima orang tersebut di antaranya mediator dan pegawai koperasi simpan pinjam.

"Disekitaran depan rumah kemudian sama-sama masuk ke dalam rumah yang menjadi TKP ini. Pada saat itu diterima oleh Budiyanto," ujar Hengki di Polda Metro Jaya, Senin (21/11/2022).

Hengki berujar begitu mereka membuka gerbang tersebut langsung tercium bau busuk yang luar biasa pada 13 Mei 2022.

Mereka kemudian bertanya pada Budiyantio, pihak yang juga kini ditemukan tewas terkait bau busuk.

"Kepada pihak rumah (ditanya) kok bau seperti ini? dijawab ini bau got," kata dia.

Dalam sertifikat rumah tersebut kata Hengki, atas nama Reni Margaretha Gunawan. Petugas itu kemudian menanyakan keberadaan Reni. Pihak rumah saat itu mengatakan kalau ibunya sedang tidur.

Namun, pihak keluarga yang juga ditemukan meninggal atas nama Dian Febbyana (42) meminta pada petugas jangan nyalakan lampu dengan alasan ibunya sensitif dengan cahaya.

"Pada saat dibangunkan untuk mengecek sertifikat, dipegang-pegang agak gembur, curiga, tanpa sepengetahuan Dian, pegawai simpan pinjam ini menghidupkan flash HP-nya, begitu dilihat yang bersangkutan langsung teriak, allahuakbar! ini sudah mayat! di tanggal 13 Mei," katanya.

Load More