-
- Perubahan iklim mempercepat siklus DBD dari lima tahun menjadi dua tahun.
- Nyamuk Aedes aegypti menggigit lebih sering karena suhu bumi yang meningkat.
- Vaksin dengue sangat efektif mencegah gejala berat dan mengurangi beban finansial.
Suara.com - Dokter spesialis penyakit dalam mengatakan perubahan iklim dan peningkatan suhu bumi dapat membuat nyamuk pembawa virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD) berkembang biak lebih cepat.
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Eka Ginanjar, Sp.PD, K-KV, FINASIM, mengatakan kasus DBD tertinggi di Indonesia terjadi pada 2016 saat El Nino, yaitu fenomena pemanasan suhu permukaan laut, melanda.
Meski tidak setinggi 2016, kasus DBD juga meningkat pada 2024 ketika El Nino kembali melanda Tanah Air.
"Ini menunjukkan bahwa pengaruh iklim terhadap peningkatan kasus DBD sangat berpengaruh. Oceanic Nino Index (ONI) lebih dari 0,5 menunjukkan bahwa pada 2016 ONI cukup tinggi dan kasus DBD kita juga tinggi. Begitu juga pada 2024," ungkap Dr. Eka dalam acara edukasi media bersama PT Takeda Innovative Medicines, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, perubahan iklim yang menyebabkan El Nino semakin sering terjadi membuat anggapan DBD sebagai penyakit lima tahunan tidak lagi relevan. Bahkan, DBD kini bisa memiliki siklus dua tahunan.
"Ini membuat siklus yang tadinya disebut lima tahunan sekarang makin dekat, menjadi dua tahunan karena pola ini ikut memengaruhi," papar Dr. Eka.
Akibatnya, kasus DBD kini semakin sering ditemukan di Indonesia. Perubahan iklim juga membuat nyamuk Aedes aegypti mengisap darah manusia lebih sering karena membutuhkan lebih banyak makanan untuk berkembang biak.
"Nyamuk itu senang perubahan iklim. Dia membutuhkan makanan lebih banyak untuk berkembang. Karena itu dia menggigit dua sampai tiga kali lipat dari biasanya," jelasnya.
"Biasanya dia menggigit cuma dua sampai tiga kali, kini bisa lebih banyak. Sehingga risiko orang tertular juga meningkat," sambung Dr. Eka.
Baca Juga: Virus Nipah Sudah Menyebar di Sejumlah Negara Asia, Belum Ada Obatnya
Nyamuk pembawa virus dengue yang lebih sering mengisap darah ini kemudian menularkan virus melalui gigitan. Akibatnya, tubuh dapat terinfeksi dan memicu gejala DBD yang hingga kini belum memiliki obat spesifik.
Seseorang yang tertular dengue juga berisiko tidak produktif selama beberapa hari. Anak-anak lebih rentan mengalami gejala berat, sementara orang dewasa bisa kehilangan waktu kerja yang pada akhirnya memengaruhi stabilitas keluarga.
Karena itu, pencegahan melalui vaksin dengue dinilai lebih efektif dibandingkan harus menjalani pengobatan selama berhari-hari. Vaksin juga dapat menurunkan risiko gejala berat sehingga pasien tidak perlu menjalani perawatan intensif atau rawat inap hingga satu pekan.
"Negara sebenarnya tidak mengabaikan DBD. Data 2025 menunjukkan BPJS meng-cover hampir Rp3 triliun untuk pembiayaan. Tapi beban ini harus kita turunkan dengan pencegahan yang kuat," pungkas Dr. Eka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga