Sebanyak 45 persen masyarakat tidak setuju Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut nama calon presiden (capres) yang didukungnya pada Pilpres 2024. Hal itu berdasarkan hasil survei Algoritma Research & Consulting.
Direktur Riset dan Program Algoritma, Fajar Nursahid mengatakan, sebaliknya hanya 35,2 persen yang setuju Jokowi sebut capres yang didukungnya pada Pilpres 2024 mendatang.
Adapun sebanyak 16,6 persen responden menyatakan tidak tahu dan 3,3 persen sisanya menyatakan tidak jawab.
Berdasarkan afiliasi dukungan politiknya, ia menyebut sebesar 43,6 pendukung Jokowi-Ma'ruf setuju jika Presiden Jokowi menyebutkan pilihan politiknya secara terbuka.
Adapun, pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang setuju Presiden Jokowi menyebutkan pilihan politiknya secara terbuka sebanyak 26,3 persen.
Meskipun ada keterbelahan pendapat, lanjut dia, hasil survei menunjukkan bahwa publik berharap Presiden Jokowi bersikap netral pada Pemilu 2024.
"Dan tidak memberikan endorsement politik yang menyebut nama tokoh capres," ucapnya.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa mayoritas publik yakni sebanyak 39,4 persen menyatakan tidak mengikuti capres yang diusung Jokowi pada Pemilu 2024, melainkan melihat tokohnya.
"Lalu kemudian ada 19 persen mengatakan enggak akan mengikuti apapun endorsement dari Pak Jokowi," tuturnya.
Baca Juga: Ibunda Bharada E Menangis Minta Tolong ke Jokowi: Kami Merasa Tidak Ada Keadilan untuk Icad
Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas publik yakni sebanyak 76,9 persen menyatakan tidak setuju dengan wacana penundaan pemilu.
Kemudian, 65,8 persen publik menyatakan tidak setuju pula dengan wacana perpanjangan masa jabatan Presiden menjadi tiga periode.
"Ini mengkonfirmasi lagi-lagi sebuah agenda politik yang sebetulnya tidak cukup populer," imbuhnya.
Survei Algoritma yang dilakukan pada 19-30 Desember 2022 dilakukan terhadap 1.214 responden yang memiliki hak pilih, yakni warga negara Indonesia berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah/pernah menikah ketika survei dilakukan.
Survei ini memiliki toleransi atau batas kesalahan (margin of error) sekitar 3 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka secara langsung dengan responden menggunakan kuesioner.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
Terkini
-
Polda Metro Jaya Buka Posko Khusus, Cari Saksi Teror Air Keras Aktivis KontraS
-
25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 15 Maret 2026: Banjir Gems dan Pemain OVR 117 Gratis
-
CORE Wanti-wanti Ekonomi RI Bisa Menderita Efek Perang Iran-AS
-
Profil Simon Grayson, Asisten Pelatih Timnas Indonesia yang Baru
-
Penuh Makna! Film dan Series Bertema Lebaran yang Wajib Masuk List Tontonan
-
Apa Kepanjangan Tol Cipali Sebenarnya? Jalan yang Sering Dilewati Saat Mudik Lebaran 2026
-
Kemenangan yang Tak Sanggup Kami Beli
-
39 Kode Redeem FF Aktif 15 Maret 2026, Ada Hadiah 9.999 Diamond Gratis dan Skin SG2 Langka
-
Prabowo Instruksikan Kapolri Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
-
5 Fakta Penemuan Mahkota Emas di PALI Sumsel yang Bikin Warga Heboh