Suara.com - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyoroti maraknya pungutan parkir liar di Gelora Bung Karno, Jakarta. Padahal tarif resmi di kawasan itu sudah tergolong mahal.
"Pengelola menerapkan tarif parkir maksimum, yaitu RP5.000 per jam, tetapi di dalam masih banyak pungutan liar oleh preman yang berkeliaran di area parkir," kata Tulus di Jakarta, Senin (10/10/2016).
Dengan tarif resmi yang mahal tersebut, Tulus menilai pengelola parkir dan manajemen Gelora Bung Karno terkesan hanya mau memungut tarif saja tanpa memiliki standar pelayanan apa pun kepada konsumen. Pungutan liar yang dilakukan preman di dalam mencapai Rp10.000 per orang. Preman setengah memaksa bila konsumen menolak dan kendaraan terancam mengalami masalah sehingga mau tidak mau pengunjung membayar pungutan liar itu.
"Pungutan liar oleh preman saya alami sendiri saat menghadiri acara Garuda Travel Fair di Jakarta Convention Center pada Minggu (9/10). Banyak pengunjung yang mengalami hal serupa juga mengadu. Hal ini lazim terjadi setiap hari," tuturnya.
Kondisi tersebut, kata Tulus, jelas melanggar Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2012 tentang Perparkiran dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
"Kalau ada pungutan liar seperti itu, apa gunanya banyak polisi dan pos polisi di dalam Gelora Bung Karno?" tanyanya.
Karena itu, YLKI mendesak manajemen Gelora Bung Karno dan polisi di kawasan Gelora Bung Karno menertibkan pungutan liar, bukan malah membiarkan dan memelihara. Bila tidak mampu menertibkan preman di area parkir, manajemen tidak berhak memungut tarif parkir, apalagi dengan tarif progesif.
"Kawasan Gelora Bung Karno yang merupakan fasilitas pemerintah karena berada di bawah otoritas Sekretariat Negara memang seharusnya bebas pungutan parkir," katanya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT