Suara.com - Jumlah pasien positif Covid-19 di Tanah Air terus bertambah. Merujuk data pada hari Senin (4/5/2020), tercatat sebanyak 11.587 orang positif virus virus corona.
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito berpendapat, sejauh ini Indonesia mempunyai tiga jenis tes untuk mendeteksi virus Covid-19. Pertama adalah tes menggunakan Real Time - Polymerase Cgain Reaction (RT-PCR).
Dijelaskan Wiku, tes RT-PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi, hampir 95 persen. Metode ini dipakai di seluruh dunia guna memastikan sampel berupa hasil swab yang diambil dari hidung atau tenggorokan.
"RT PCR inilah yang dipakai di seluruh dunia untuk memastikan apabila sampel berupa swabnya diambil dari hidung atau tenggorokan, itu bisa dites dan menunjukkan positif atau negatif terhadap virus SarsCov 2 ini," kata Wiku di Gedung BNPB, Selasa (5/5/2020).
Selanjutnya adalah metode tes bernama Tes Cepat Molekuler (TCM). Tes ini menggunakan sebuah relatif yang begitu cepat yang dilakukan secara molekuler dan memunyai sensitifitas sekitar 95 persen.
"TCM, tes cepat molekuler, menggunakan sebuah yang relatif cepat, dilakukan secara molekuler, dan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi sekitar 95 persen," katanya.
Berbeda dengan tes RT-PCR yang acapkali disebut sebagai sistem terbuka (open system), TCM dapat dilakukan relatif lebih cepat. Pasalnya, tes RT-PCR harus memerlukan reagen dan sampel.
"Kalau yang Rat PCR tadi sering disebut sebagai open system jadi sistemnya terbuka, memerlukan reagen dan sampel, dan bisa di lakukan tes dengan relatif cepat beberapa jam sudah bisa ketemu hasilnya," jelas Wiku.
Menurut Wiku, alat tes TCM sebelumnya hanya dipakai untuk menguji sejumlah penyakit. Misalnya, TBC, HIV, dan lainnya. Bahkan, alat ini diklaim sudah dimiliki oleh pemerintah Indonesia dan tersebar di banyak tempat --namun, tak dibeberkan lebih detil oleh Wiku.
Baca Juga: Diperiksa Swab, 3 Penumpang KRL Bogor Positif Corona
"Kalau ini dipakai, maka hasilnya lebih cepat keluarnya dan sangat spesifik dan sensitif. Alat ini sebenarnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia tersebar di banyak tempat, cuman masalahnya cartridge atau kasetnya itu kesulitan kita mendapatkannya karena persaingan di dunia semua perlu itu,"'tambahnya.
Metode tes ketiga adalah rapid tes --uji cepat-- yang biasa disebut Rapid Diagnostic Test (RDT). Tes ini berupa mengetes antibodi dalam tubuh seseorang.
Wiku mengatakan, ada juga yang disebut sebagai RDT antigen. Dalam kenyataannya, alat tersebut terbilang jarang -- di seluruh belahan dunia jumlahnya hanya sedikit.
"Jadi yang sering dipakai adalah RDT antibodi, di mana rapid test ini bisa mendeteksi adanya antibodi yang telah muncul di penderita, biasanya antibodi itu muncul setelah orang tersebut terpapar dan mulai tubuhnya melawan," ucap Wiku.
Lebih lanjut, Wiku menekankan pentingnya suatu sistem dalam pengujian sampel. Jika seseorang dinyatakan positif, artinya harus ada tindakan cepat --misalnya menggunakan RT-PCR-- untuk memastikan hasilnya.
"Maka dari itulah pentingnya memiliki suatu sistem dalam pengujian, kalau sampai positif di itu harus di-follow up dengan tes menggunakan RTPCR untuk memastikan hasilnya," imbuh dia.
Berita Terkait
-
Diperiksa Swab, 3 Penumpang KRL Bogor Positif Corona
-
Presiden Erdogan Sebut Vaksin Covid-19 Adalah Milik Seluruh Umat Manusia
-
Hipoksia Termasuk Komplikasi Corona Covid-19 Mematikan, Ini Tanda Umumnya!
-
Kejadian Langka! Ajudan Wagub Sumut Kembali Terinfeksi Corona usai Sembuh
-
AISI dan Gaikindo Dukung Produksi Ventilator, Kemenperin Terus Koordinasi
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan