Suara.com - Total jejak karbon dari 1% orang-orang super kaya akan tumbuh, sementara 50% orang-orang termiskin tetap kecil, ungkap sebuah penelitian, walaupun ada komitmen yang dibuat menjelang KTT COP26.
Emisi orang-orang super kaya akan berada di jalur yang 30 kali lebih tinggi dari yang dibutuhkan untuk menghentikan planet dari pemanasan di atas 1,5 derajat Celcius, menurut penelitian.
Emisi dari 50% penduduk termiskin masih akan jauh di bawah kebutuhan, meskipun mereka adalah kelompok yang paling parah terpapar dampak perubahan iklim.
Penelitian itu, yang dilakukan oleh dua badan lingkungan Eropa, muncul saat para pemimpin dunia bertemu di Konferensi Iklim COP26 di Glasgow, Skotlandia.
"Sekelompok kecil elit tampaknya memiliki izin bebas untuk melakukan pencemaran," kata Naftoke Dabi di Oxfam, dari Institut Lingkungan Stockholm dan Institut Kebijakan Lingkungan Eropa.
Baca juga:
- Indonesia termasuk pembabat hutan terbanyak, Menteri LHK: 'Pembangunan era Jokowi tidak boleh berhenti atas nama deforestasi'
- Sebanyak 190 negara dan lembaga setuju tinggalkan batu bara, bagaimana dengan Indonesia?
- Cek fakta pernyataan Jokowi di COP26, tentang deforestasi
"Emisi mereka yang terlalu besar memicu cuaca ekstrem di seluruh dunia dan membahayakan tujuan internasional untuk membatasi pemanasan global."
Para ilmuwan tentang iklim memperingatkan bahwa ada gas rumah kaca dalam jumlah terbatas yang dapat terus kita lepaskan ke atmosfer sebelum planet ini menghangat hingga lebih dari 1,5C dari tingkat pra-industri.
Pada 2030, kata mereka, kita hanya perlu mengeluarkan karbon sebanyak yang dapat diserap oleh planet ini.
Baca Juga: Pimpinan DPR: Masalah Emisi Karbon Perlu Kajian Mendalam
Bayangkan jumlah ini dibagi rata dan setiap orang dewasa di planet ini memiliki bagian, pada 2030 kita masing-masing dapat mengeluarkan 2,3 ton karbon setiap tahun.
Orang-orang super kaya - banyak di antaranya memiliki banyak rumah, jet pribadi, dan superyacht - mengeluarkan emisi jauh lebih banyak daripada yang lain.
Sebuah studi baru-baru ini yang melacak perjalanan udara para selebriti melalui akun media sosialnya menemukan sejumlah emisi lebih dari seribu ton setiap tahun.
Tetapi kelompok 1% secara global itu bukan hanya miliarder, atau bahkan jutawan - ini termasuk siapa saja yang berpenghasilan lebih dari $172.000 (sekitar Rp2,5 miliar) per tahun.
Studi ini juga mengamati 10% orang-orang sangat kaya di dunia - siapa pun yang berpenghasilan lebih dari $55.000 (sekitar Rp790 juta) - dan menemukan emisi masih tinggi.
10% orang-orang sangat kaya itu akan mengeluarkan karbon sembilan kali lebih banyak.
Baca juga:
- Mengapa angka 1,5C sangat penting dalam COP26 di Glasgow dan dapat mengarah ke 'bencana iklim' bila tak ada tindakan
- Rencana ratusan negara atasi perubahan iklim dikritik PBB, termasuk Indonesia
- Polusi udara Jakarta: Jokowi dan tiga menterinya layangkan banding atas vonis hakim, penggugat kecewa
Salah satu contoh orang-orang di 10% teratas adalah Keluarga Curth, yang beranggotakan lima orang di pinggiran kota Toledo, Ohio, AS.
Traci Curth, suaminya dan putri remajanya masing-masing mengendarai mobil.
"Di pinggiran kota tempat saya tinggal, begitulah cara semua orang jalan-jalan," kata Traci.
Kota Toledo memiliki musim panas yang terik dan musim dingin, jadi AC menyala saat alat pemanas tidak menyala.
Keluarga itu memiliki lemari es yang diisi dengan daging dada ayam dan daging sapi cincang - mereka makan daging sekitar empat atau lima kali seminggu.
"Saya akan mengatakan itu cukup normal untuk sebagian besar keluarga Amerika," kata Traci.
Bagi guru bahasa Inggris Togonin Severin Togo di Kati, Mali, hidup sangat berbeda.
Seperti 80% orang di dunia, dia tidak punya mobil - dia bepergian untuk bekerja dengan sepeda motornya.
"Mobil dianggap identik dengan orang-orang kaya," katanya.
Dia berhenti makan daging baru-baru ini, tetapi sebelum itu dia memakannya hanya dua atau tiga kali seminggu.
Dan - seperti 90% orang di seluruh dunia - dia tidak pernah naik pesawat.
Namun dia mengkhawatirkan emisi dari orang-orang yang membakar sampah di kotanya, di mana sistem pengelolaan sampah tidak berfungsi, serta tidak efisiennya pembakar kayu dan gas yang digunakan untuk memasak.
Laporan Oxfam menemukan bahwa 40% kelompok menengah melakukan upaya paling banyak untuk mengekang emisi.
Sementara jejak karbon mereka meningkat secara signifikan antara 1990 dan 2015, itu akan menurun, berkat perubahan yang dilakukan di tingkat pemerintah pada sektor-sektor seperti transportasi dan energi sejak perjanjian iklim Paris pada 2015.
Tetapi pemerintah perlu berbuat lebih banyak, kata Naftoke Dabi - dengan menyerukan larangan dan pemberlakuan pajak atas "barang mewah padat karbon, rumah mewah, mobil SUV atau wisata luar angkasa".
"Mereka perlu mengatasi emisi orang-orang super kaya karena mereka sangat bertanggung jawab atas krisis iklim, dan mereka yang paling miskinlah yang membayar harga tertinggi," katanya.
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
BRI KKB National Expo Catat Rekor MURI, Hadirkan Penawaran Pembiayaan di 131 Lokasi
-
3 Serum Bulu Mata yang Bagus Sesuai Review, Dipuji Bikin Panjang dan Lentik
-
Siswa di Kampar Keracunan Massal usai Santap Menu MBG
-
BNPB Minta Warga Flores Jangan Panik Hadapi Gempa Susulan: Tetap Tenang
-
4 Tinted Sunscreen Mengandung Niacinamide dan Ceramide sesuai Review dan Harga
-
Roberto Carlos: Saya Sangat menghormati Islam
-
Belasan Ribu Maba Datang ke Jogja, Ekosistem Kota Kembali Bergeliat
-
Digelar Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo Sabet Rekor MURI
-
Perjalanan Cinta Roberto Carlos: Punya 11 Anak dari 7 Wanita Berbeda dan Menikah 4 Kali
-
Dendam yang Tak Pernah Selesai dalam Novel Peraih Nobel Beauty and Sadness