News / Nasional
Rabu, 07 Desember 2022 | 15:06 WIB
Ilustrasi Eks Karo Provos Propam Polri Benny Ali. (Ist)

"Selanjutnya Pak FS (Ferdy Sambo) menjelaskan sambil megang juga, karena di video ditampilkan megang-megang pangkat. 'Tidak ada guna saya pangkat bintang 2 kalau saya tidak bisa jaga marwah daripada keluarga saya'," ujar Benny menirukan ucapan Sambo.

Ungkap curhatan Putri soal pelecehan seksual

Hakim bertanya soal keberadaan Putri saat kejadian berlangsung. Benny mengatakan, dia dan Kombes Susanto bertemu istri Ferdy Sambo itu di rumah Jalan Saguling.

"Ibu PC di mana?" tanya hakim.

"Ibu PC di rumah Saguling," jawab Benny.

Kala itu, Benny bertanya kepada Putri soal kejadian sebenarnya. Sambil menangis, istri Sambo itu bercerita soal pelecehan seksual yang dilakukan Yosua terhadapnya hingga membuatnya teriak. Pelecehan disebut Putri dialaminya seusai pulang dari Magelang.

"Apa yang diceritakan Ibu PC?" tanya hakim.

"Bu Putri nangis waktu itu. Beliau sampaikan bahwa saat itu beliau baru pulang dari Magelang, pakai celana pendek, istirahat di Duren Tiga. sedang santai. Jadi almarhum Yosua melaksanakan pelecehan. Sehingga beliau (PC) teriak," beber Benny.

"Dipegang-pegang," imbuh Benny.

Baca Juga: Ngaku Syok hingga Suruh Bharada E Setop Tembakan, Ferdy Sambo Ambil Senjata Yosua buat Tembak Tembok

"Paha?" tanya hakim.

"Iya," kata Benny.

Sebut istrinya paling menderita

Benny merasa kena prank usai mengetahui penembakan Brigadir J adalah rekayasa. Ia mengungkapkan rasa keberatan dan kesedihannya karena terseret kasus Ferdy Sambo. Menurutnya, kejadian ini sudah membuat keluarganya menanggung beban yang berat.

"Yang paling berat hukumannya itu sebenarnya bukan patsus-nya, tapi beban yang kami terima ini terhadap anak kami, istri kami, keluarga kami. Itu yang paling berat," kata Benny.

Hukuman penahanan di tempat khusus (patsus) selama sebulan menurut Benny tidak sebanding dengan kekecewaan dan beban keluarganya di hadapan masyarakat. Ia juga mengatakan istrinya yang paling menderita dalam hal ini.

"Sedih (karena kasus Sambo). Ya yang paling menderita itu adalah istri saya," ungkap Benny. 

Berani Labrak Sambo

Benny bercerita sempat bertemu secara langsung dengan Ferdy Sambo saat keduanya dipindahkan ke Patsus. Ia kala itu berani melabrak dan menyampaikan kekecewaannya terhadap Sambo karena sudah merekayasa kasus kematian Yosua.

Ia menyebut Sambo sudah tega mengorbankan dirinya dalam kasus Brigadir Yosua. Rekayasa yang dirancang Sambo itu, lanjut Benny, sudah menghancurkan kariernya serta para anggota Polri yang lain.

"Waktu di Mako Brimob saat olahraga, kan kita (saya dan Sambo) nggak boleh ketemu. Pada kesempatan olahraga, saya bilang, 'Komandan tega sudah menghancurkan saya dan keluarga'," cerita Benny.

"Termasuk adek-adek kita komandan. Komandan harus bertanggung jawab. Kasihan semua akhirnya. Gara-gara komandan, banyak sekali korban'," lanjutnya.

Sambo kemudian menyampaikan permintaan maaf atas kebohongan tersebut dan mengatakan Benny tidak bersalah dalam kasus Yosua. Ia juga akan menjelaskan bahwa Benny dan bawahannya yang lain tak terlibat.

"Beliau bilang 'Iya Pak, maafin saya Pak. Gara-gara saya semuanya seperti ini. Ya nanti saya coba jelaskan (di persidangan) kalau abang dan yang lainnya itu tidak bersalah. Semua ini berita bohong saya, prank saya yang membawa adik-adik semua'," ungkap Benny.

"Dia (Sambo) tahu juga sudah membuat kita ini menderita, kasihan. 'Mungkin kita dengar ada rekayasa, ada yang tidak tahu- menahu sama sekali. Komandan harus menjelaskan, karena di luar itu beritanya lain komandan. Seolah-olah kita masuk ke dalam persengkokolan'," imbuh Benny.

"'Iya maaf, saya salah'," kata Benny lagi mengulang ucapan Sambo.

Kontributor : Xandra Junia Indriasti

Load More