1. Sempat Dirawat Intensif
Paus Fransiskus sebenarnya telah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Gemelli, Roma, sejak 14 Februari 2025, setelah mengalami gejala bronkitis.
Meski sempat menunjukkan respons positif terhadap pengobatan awal, kondisi kesehatannya perlahan-lahan mulai memburuk. Hanya empat hari setelah dirawat, tepatnya pada 18 Februari lalu, tim medis menyatakan bahwa Paus sakit pneumonia.
Penyakit infeksi serius yang menyerang kedua paru-parunya.
Sejak saat itu, kesehatannya mengalami pasang surut, namun semangatnya untuk terus menjalankan tugas-tugas gereja tetap ditunaikan.
Paus tetap memancarkan keteguhan hati menginspirasi jutaan umat di seluruh dunia.
2. Pesan Paskah Terakhir Bicara Soal Gaza
Dalam pesan Paskah 2025 yang dibacakan oleh ajudannya karena kondisi kesehatan yang memburuk, Paus Fransiskus kembali menunjukkan kepedulian mendalam terhadap krisis kemanusiaan di Timur Tengah—khususnya di Gaza.
Paus menekankan urgensi perdamaian dan menyerukan gencatan senjata segera agar darah tak lagi tumpah dan derita rakyat bisa dihentikan.
Baca Juga: Cerita Paus Fransiskus Diusir Eks Pelatih Lionel Messi dari Ruang Ganti Pemain
Ia menggambarkan situasi di Gaza sebagai sesuatu nan menyedihkan, mencerminkan betapa besar penderitaan yang harus ditanggung oleh masyarakat sipil, terutama anak-anak dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Tidak hanya berhenti di situ, Paus juga menyerukan agar para sandera yang ditahan oleh Hamas segera dibebaskan sebagai langkah menuju rekonsiliasi dan kemanusiaan.
Dalam pesan yang menyentuh banyak hati itu, ia pun tidak lupa menyoroti gelombang kebencian yang muncul di tempat lain mengutuk meningkatnya kasus antisemitisme yang merebak di berbagai belahan dunia sebagai ancaman nyata terhadap persatuan dan martabat manusia.
Paus Fransiskus, hingga akhir hayatnya, tetap menjadi suara yang lantang menyerukan kasih, keadilan, dan perdamaian universal, menjadikan pesan Paskah 2025 sebagai salah satu warisan moral dan spiritual yang paling menggugah dalam masa kepemimpinannya.
3. Warisan Kesetiaan pada Injil
Kardinal Kevin Farrell menekankan betapa besar warisan spiritual yang ditinggalkan Paus Fransiskus bagi Gereja dan dunia.
Ia mengenangnya sebagai pemimpin yang tidak hanya mengemban gelar tertinggi dalam Gereja Katolik, tetapi juga benar-benar menjalani hidup dalam kesetiaan penuh terhadap nilai-nilai Injil.
“Ia mengajarkan kita untuk hidup dalam nilai-nilai Injil dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal, terutama bagi mereka yang termiskin dan paling terpinggirkan,” ujar Farrell dalam pernyataan resminya.
Ucapan tersebut merangkum sosok Paus Fransiskus sebagai pemimpin moral yang tidak pernah ragu untuk berpihak pada kaum lemah dan tertindas, bahkan ketika pilihannya mengundang kritik atau kontroversi.
Selama masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus secara konsisten menyerukan kasih yang tak bersyarat, pengampunan yang tulus, dan solidaritas yang melampaui batas negara, budaya, bahkan keyakinan.
Ia menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, dan tokoh kunci dalam upaya menciptakan dunia yang lebih damai dan inklusif.
Dalam banyak kunjungan pastoral dan pidatonya, ia tidak hanya berbicara, tetapi hadir secara nyata di tengah-tengah penderitaan—baik di kamp pengungsi, daerah konflik, maupun komunitas minoritas yang terpinggirkan.
Ia juga aktif mendorong dialog antaragama, menjalin hubungan dengan pemimpin Muslim, Yahudi, Buddha, dan pemeluk agama lain demi membangun jembatan kemanusiaan yang kokoh.
Warisannya bukan hanya dalam bentuk dokumen-dokumen keagamaan atau kebijakan Gereja, melainkan dalam tindakan nyata yang menggugah dunia akan pentingnya belas kasih, keberanian moral, dan kemanusiaan yang menyatukan, bukan memecah.
Paus Fransiskus mungkin telah berpulang, tetapi teladan hidupnya akan terus menjadi cahaya bagi jutaan umat dan pemimpin masa depan Gereja.
4. Paus Fransiskus di Paskah 2025
Penampilan terakhir Paus Fransiskus di hadapan umat menjadi momen yang sangat emosional dan penuh makna.
Itu terjadi pada Minggu, 20 April 2025, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Paskah di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.
Meski dalam kondisi tubuh yang sangat lemah dan hanya bisa duduk di kursi roda, Paus tetap memilih untuk hadir secara langsung menyapa umatnya, sebuah keputusan yang mencerminkan dedikasi dan cinta kasihnya yang tak pernah surut terhadap Gereja dan umat Katolik di seluruh dunia.
Dari balkon Basilika Santo Petrus, tempat ia biasanya menyampaikan berkat agung Urbi et Orbi, Paus asal Argentina itu menyapa dengan suara lirih, namun penuh ketulusan, "Selamat Paskah."
Hanya dua kata sederhana, namun resonansinya begitu dalam, seolah mengandung seluruh semangat pelayanan dan keteguhan imannya hingga detik terakhir.
Karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk, tradisi penyampaian berkat Urbi et Orbi yang biasanya menjadi puncak perayaan Paskah, kali ini dipercayakan kepada seorang ajudan.
Namun, meski hanya hadir sebentar dan tidak menyampaikan pesan panjang, kehadiran singkat Paus Fransiskus dari kursi rodanya justru meninggalkan kesan mendalam bagi puluhan ribu umat yang hadir secara langsung, maupun jutaan lainnya yang menyaksikan melalui siaran televisi dan media daring.
Banyak yang meneteskan air mata melihat sosok pemimpin mereka tetap berjuang meski tubuhnya tak lagi sekuat dahulu.
Momen itu menjadi tanda kasih seorang pemimpin rohani yang tetap memilih hadir bersama umatnya hingga akhir.
Hari itu, Lapangan Santo Petrus bukan sekadar menjadi tempat perayaan, melainkan saksi bisu ketulusan dan kerendahan hati seorang Paus yang telah mendedikasikan hidupnya demi cinta, perdamaian, dan pelayanan sejati.
Berita Terkait
-
Cerita Paus Fransiskus Diusir Eks Pelatih Lionel Messi dari Ruang Ganti Pemain
-
Prabowo Sampaikan Duka Mendalam, Ingat Pesan Kesederhanaan Paus Fransiskus
-
Siapa Penerus Paus Fransiskus? Ini 4 Kandidat Kuat yang Diprediksi Bakal Jadi Paus Berikutnya
-
Gereja Katedral Jakarta Gelar Misa untuk Paus Fransiskus yang Telah Wafat
-
Pemimpin Tertinggi Umat Katolik Meninggal Dunia, Apa Penyakit yang Diderita Paus Fransiskus?
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123