Suara.com - Mahasiswa MIT tidak hanya belajar di kelas. Mereka juga turun langsung ke lapangan untuk merancang solusi yang relevan bagi komunitas global. Semester ini, mahasiswa MIT D-Lab mengembangkan prototipe untuk membantu petani di Afghanistan, masyarakat permukiman informal di Argentina, dan peternak unggas pedesaan di Kamerun.
Proyek-proyek ini berangkat dari dua kelas inti D-Lab yang dirancang untuk memadukan teori dan praktik, yakni Pengantar Energi dalam Pembangunan Global dan Penerapan Energi dalam Pembangunan Global.
Keduanya telah berjalan selama tujuh tahun terakhir dan secara konsisten menghubungkan mahasiswa dengan komunitas internasional yang menghadapi tantangan energi dan infrastruktur dasar.
Bagi Josh Maldonado, pengajar dan alumnus kelas ini, pengalaman belajar di D-Lab adalah titik balik.
“Melalui perjalanan tersebut, para siswa sering kali memperoleh apresiasi atas apa yang mereka miliki di rumah, dan mereka tidak dapat melupakan apa yang mereka lihat,” ujarnya. “Bagi saya, hal itu mengubah seluruh karier saya.”
D-Lab memegang prinsip desain partisipatif—yakni solusi dirancang bukan hanya untuk masyarakat, tetapi bersama masyarakat. Mahasiswa tidak datang membawa solusi instan, tapi belajar mendengarkan dan berkolaborasi.
“Masalahnya adalah mitra kami sering berada di daerah terpencil dan sumber daya rendah di dunia. Kami memberi penekanan besar pada perancangan dengan masyarakat setempat dan meningkatkan pengembangan kapasitas kreatif mereka untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka dapat membangun solusi sendiri,” jelas Maldonado.
Kelas pengantar diadakan setiap musim semi, sementara kelas lanjutan diselenggarakan di musim gugur. Setelah kelas berakhir, mahasiswa melakukan perjalanan langsung ke komunitas yang menjadi fokus proyek mereka.
Proyeknya beragam dan kontekstual. Di Ghana, pernah ada proyek mitigasi gulma air bagi nelayan. Di Uganda, mahasiswa merancang produksi arang untuk kompor. Di Mali, mereka membuat pendingin dari bata untuk memperpanjang masa simpan hasil panen.
Baca Juga: Pesisir Utara Demak Diprediksi Tenggelam 2030 Akibat Krisis Iklim
Tahun ini, mahasiswa Kanokwan Tungkitkancharoen bekerja sama dengan organisasi Weatherizers Without Borders untuk meningkatkan kualitas rumah warga di Bariloche, Argentina. Timnya membuat rumah model dan menggunakan kamera termal untuk menunjukkan efektivitas pelapisan cuaca kepada warga dan pembuat kebijakan.
“Kami membantu mitra kami merenovasi rumah agar lebih tahan terhadap cuaca,” kata Kanokwan. “Sebelum semester ini, saya tertarik untuk bekerja langsung dengan orang-orang yang terdampak oleh teknologi ini dan situasi iklim saat ini. D-Lab membantu saya bekerja dengan orang-orang di lapangan, dan saya sangat berterima kasih kepada mitra komunitas kami.”
Sementara itu, mahasiswa magister MIT Khadija Ghanizada, yang berasal dari Afghanistan, terlibat dalam proyek sistem irigasi mikro di negaranya. “Saya menyukai proses masuk ke kelas dengan pertanyaan praktis yang perlu Anda selesaikan dan bekerja sama erat dengan mitra komunitas,” katanya. “Saya tahu ini akan membuat perbedaan karena ini adalah negara yang terkurung daratan, yang sedang mengalami kekeringan, dan 80 persen ekonomi kita bergantung pada pertanian.”
Dampak dari program ini tidak hanya terasa di lapangan. Ia juga membentuk masa depan para mahasiswa. Banyak alumni D-Lab kini bekerja di pembangunan internasional, mendirikan organisasi, bahkan membangun bisnis berbasis teknologi yang mereka kembangkan di kelas.
Namun, yang terpenting, D-Lab mendorong keberlanjutan lokal.
“Solusi ini harus dapat dibangun secara lokal, bersumber secara lokal, dan berpotensi juga mengarah pada penciptaan pasar lokal berdasarkan teknologi tersebut,” ujar Maldonado.
“Kami tidak hanya mengajari orang cara menggunakan solusi ini, kami juga mengajari mereka cara membuatnya.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Kapolri Buka Suara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan: Itu Kewenangan Kejaksaan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
Terekam CCTV, Detik-detik Pasutri di Duren Sawit Gasak Motor Sambil Bawa Anak
-
MBG Disetop Saat Libur Sekolah, BGN Disomasi: Ibu Hamil dan Balita Tetap Butuh Nutrisi!
-
Dua Calon Pengelola KDMP Meninggal saat Ikut Latihan Militer
-
Sering Mangkir, KPK Pertimbangkan Jemput Paksa Model Fitri Assidikki
-
Klaim MBG Bukan Proyek! KemenHAM: Ini Instrumen Negara Penuhi Hak Dasar Siswa
-
Gagal Jadi JC, Sony Sonjaya Ternyata Belum Akui Perbuatan di Kasus Korupsi MBG
-
Satu Tahun Dicuekin, Fariz RM Akhirnya 'Gas Pol' Seret Pelanggar Hak Cipta Lagunya ke Polisi
-
Militerisme Menguat! 1.047 Pembela HAM Diserang di Era Prabowo-Gibran