-
Perang Israel-Iran memicu pembengkakan biaya militer hingga mencapai Rp15 triliun setiap harinya.
-
Israel menerapkan sensor militer ketat dan melarang wartawan mendokumentasikan korban serta lokasi hancur.
-
Rudal Iran dilaporkan mampu menembus pertahanan tanpa memicu sirene peringatan hingga menewaskan warga.
Suara.com - Pertempuran sengit antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu kini mengungkap sisi gelap yang mengejutkan.
Meski klaim kemenangan atas hancurnya fasilitas strategis Teheran terus disuarakan, Tel Aviv nyatanya sedang menanggung beban yang sangat berat.
Kerugian besar ini tidak hanya menyasar aspek material, tetapi juga meliputi hilangnya nyawa manusia dan membengkaknya anggaran pertahanan.
Para pembayar pajak di Amerika Serikat kini mulai mengalihkan perhatian mereka pada anggaran militer yang dianggap tidak masuk akal.
Estimasi biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung operasi militer ini menyentuh angka fantastis, yakni sekitar Rp15 triliun setiap harinya.
Dilihat dari perspektif ekonomi perang, Iran justru tampil jauh lebih hemat dan efisien dalam meluncurkan serangan udara mereka.
Teheran sangat mengandalkan penggunaan drone jenis Shahed 136 yang dikenal memiliki biaya produksi sangat rendah namun berdampak besar.
Satu unit pesawat nirawak Shahed 136 tersebut diperkirakan hanya dibanderol dengan harga sekitar US$20.000 atau setara Rp338 juta saja.
Sumber ilmiah lain menyebutkan rentang harga drone ini berada di angka US$20.000 hingga US$50.000 yang setara dengan Rp845 juta.
Baca Juga: Iran Hampir Menang, Israel Hancur Lebur Hingga Dunia Diambang Krisis Minyak
Perbandingan ini sangat jomplang jika disandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak Israel dan Amerika Serikat.
Pihak lawan terpaksa menggunakan rudal pencegat yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal demi menjatuhkan drone murah milik Iran tersebut.
Satu unit sistem pertahanan udara Arrow-3 milik Israel tercatat memiliki harga mencapai US$3 juta atau sekitar Rp50 miliar per tembakan.
Kondisi ini secara perlahan namun pasti mulai menguras cadangan sumber daya dan logistik militer milik Washington dan Tel Aviv.
Selain masalah finansial, seorang jurnalis asal India bernama Praj Mohan Singh membagikan kesaksian mengejutkan mengenai situasi asli di lapangan.
Singh mengungkapkan bahwa pemerintah Israel menerapkan kontrol informasi yang sangat ketat untuk menutupi dampak kerusakan yang sebenarnya terjadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda