Suara.com - Air adalah salah satu sumber kehidupan. Namun, bagi jutaan anak perempuan, air sering kali menjadi penghalang bagi mimpi-mimpi mereka. Laporan terbaru dari The Guardian mengungkap sebuah ketidakadilan, yakni perempuan dan anak perempuan hingga saat ini menjadi pihak yang paling menanggung beban terberat dari krisis air global yang diperparah oleh perubahan iklim.
Perempuan bukan hanya korban dari mengeringnya sumber air global, tapi juga menjadi pihak yang paling sedikit dilibatkan dalam solusinya. Padahal, data menunjukkan bahwa ketika perempuan diberikan akses dan pengambilan keputusan terkait air, seluruh komunitas akan bertumbuh menjadi lebih sehat.
Krisis Iklim yang Diskriminatif
Menurut laporan baru dari PBB, perubahan iklim bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan mesin kemiskinan bagi perempuan. Data menunjukkan bahwa kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celcius saja mampu mengurangi pendapatan rumah tangga yang dipimpin perempuan sebesar 34% lebih banyak daripada rumah tangga yang dipimpin laki-laki.
Selain faktor ekonomi, krisis air memakan waktu yang sangat berharga. Secara kolektif, perempuan di seluruh dunia menghabiskan 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengambil air.
Saat sumber air mengering akibat cuaca ekstrem, beban ini menjadi meningkat. Jam kerja mingguan perempuan rata-rata bertambah 55 menit dibandingkan laki-laki. Waktu yang hilang ini seharusnya bisa digunakan untuk pendidikan, mengasuh anak, atau aktivitas ekonomi produktif lainnya.
Dampak Bagi Pendidikan dan Kesehatan
Laporan dari The World Water Development menemukan bahwa kurangnya akses air dan sanitasi dapat menghambat pembangunan sosial secara sistematis. Di 40 negara berpenghasilan rendah, sekitar 10 juta remaja putri terpaksa absen dari sekolah atau kegiatan sosial karena tidak adanya fasilitas toilet yang layak.
Tak hanya itu, the head of public health policy at the charity WaterAid, Helen Hamilton juga menyoroti risiko keselamatan yang mungkin terjadi. Ketika sumber air semakin jauh dan langka akibat iklim yang tidak menentu, perempuan bisa saja mengalami risiko kekerasan berbasis gender karena harus berjalan jauh ke wilayah terpencil untuk mencari air bagi keluarga mereka.
Baca Juga: Cerita Perempuan Mudik Sendiri di Tengah Padatnya Terminal Pulo Gebang, Aman atau Rawan?
Belajar dari Rumate, Kenya
Meski tantangannya terlihat sangat sulit, solusi nyata mulai bermunculan ketika perempuan tidak lagi dipandang sebagai korban, melainkan sebagai pengelola. UNESCO menegaskan bahwa untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, maka perempuan juga harus dilibatkan untuk berpartisipasi dalam tata kelola air.
Bukti nyata keberhasilan ini dicatat oleh World Vision charity di wilayah Rumate, Kenya. Di sana, para perempuan yang dulunya menghabiskan waktu empat jam per hari untuk mencari air, kini dilibatkan langsung dalam pengeboran sumur dan pembangunan infrastruktur. Hasilnya, anak-anak di wilayah tersebut kini menjadi lebih sehat dan terbebas dari malnutrisi karena akses air bersih yang sudah terjamin. Lebih dari itu, para ibu juga memiliki waktu untuk memulai usaha kecil.
Mengakhiri Ketidakadilan
The global director for water at World Vision, Parvin Ngala menekankan bahwa norma sosial sering kali gagal menghargai usaha perempuan terkait akses mendapatkan air. Padahal, ketika akses air diberikan secara adil, seluruh komunitas akan mendapatkan manfaatnya.
Memperjuangkan hak air bagi perempuan bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar, melainkan sebagai upaya membangun ketahanan sebuah bangsa untuk menghadapi masa depan dunia dan alam yang semakin tidak menentu. Seperti yang ditegaskan oleh PBB, air bersih bukan lagi kemewahan, melainkan fondasi bagi kesehatan, pendidikan, dan kesempatan ekonomi yang setara bagi semua.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
Terkini
-
Titah Kaesang Pangarep di Papua Barat: Jangan Biarkan Pembangunan Infrastruktur Terhenti
-
Hormati Pertemuan PGI - HKBP dan Jusuf Kalla, GAMKI Ajak Publik Hindari Polarisasi
-
Dosen UI: Tantangan Literasi Bencana Ada pada Aksi, Bukan Sekadar Informasi
-
Geruduk Kementerian Diktisaintek, BEM SI Teriakan Tiga Dosa Perguruan Tinggi
-
Prabowo Panggil Mendiktisaintek, Kampus Diminta Jadi Mitra Pemda Atasi Masalah Daerah
-
Ribka Haluk: Keselarasan Kebijakan Pusat - Daerah Kunci Sukses PSN Pantura Jawa
-
Telisik Penyebab Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Polisi Periksa Dinas PU Hingga Sopir Green SM
-
Kapal Perang AS Terjang Iran di Selat Hormuz dengan Dalih "Project Freedom"
-
Polisi Ciduk Pelaku Penusukan Terhadap Ibu di Pondok Aren Tangsel, Motif Masih Dalam Penyelidikan
-
Ade Armando, Abu Janda, dan Grace Natalie Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Video Ceramah JK