News / Internasional
Senin, 29 Juni 2026 | 07:30 WIB
Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia kembali melonjak akibat konflik bersenjata AS-Iran yang memanas di Selat Hormuz.

  • Kerusakan infrastruktur dan ketakutan operator kapal komersial membuat pemulihan pasokan energi berjalan sangat lambat.

  • Pejabat AS menyatakan proses negosiasi tetap berjalan meski Iran menetapkan syarat geopolitik yang berat.

Suara.com - Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang terus membara di Selat Hormuz langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Konflik yang memasuki hari keempat ini mengguncang pasar energi karena Iran bersikeras mempertahankan kendali atas jalur maritim kritis tersebut.

Minyak mentah Brent naik 0,9 persen ke level 72,20 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS menanjak 1,3 persen menjadi 70,09 dolar per barel. Padahal pada Jumat lalu, harga komoditas ini sempat menyentuh titik terendah sejak perang meletus.

Sebelum eskalasi terbaru terjadi, pasar sempat bernapas lega berkat harapan kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari. Pemulihan lalu lintas kapal tanker sempat terlihat setelah penandatanganan perjanjian perdamaian pada 17 Juni lalu.

Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]

Laju pemulihan tersebut mendadak lumpuh setelah Iran menyerang sebuah kapal komersial di selat tersebut pada hari Kamis. PBB bahkan terpaksa menunda rencana evakuasi bagi para pelaut dan kapal yang terjebak di zona bahaya.

Saling balas serangan rudal dan drone antara kedua militer membuat perairan strategis ini menjadi sangat berisiko. Sejumlah operator kapal komersial kini terpaksa mengalihkan rute pelayaran mereka demi mendekati wilayah pesisir Oman.

Sentimen pasar kini menyadari bahwa penurunan harga energi tidak hanya bergantung pada pemulihan jalur perdagangan maritim saja. Infrastruktur energi yang rusak parah membutuhkan waktu berbulan-bulan agar kapal tanker bisa melintas dengan normal.

Para pengamat ekonomi bahkan memperingatkan risiko bahwa harga minyak kemungkinan tidak akan kembali ke level sebelum perang pada tahun 2026. Meski demikian, harga saat ini masih berada jauh di bawah rekor tertinggi empat tahun terakhir yang sempat menyentuh $126 per barel pada April lalu.

Penurunan harga dari puncaknya tersebut setidaknya sedikit meringankan beban pengeluaran bahan bakar para konsumen di Amerika Serikat. Berdasarkan data AAA, rata-rata harga bensin reguler domestik turun hampir 13 persen dari bulan lalu menjadi $3.87 per galon.

Di sisi lain, pertempuran akhir pekan ini menjadi ujian berat bagi komitmen awal perdamaian transisi kedua negara. Gelombang serangan pesawat tanpa awak dan rudal dari Teheran dilaporkan gagal mengenai sasaran utama mereka.

Baca Juga: Penampakan Bangunan Hancur di Bahrain dan Kuwait Usai Dihajar Rudal Iran

Pemerintah Iran berdalih serangan tersebut merupakan balasan setelah pangkalan militer mereka di negara Teluk dihantam oleh militer AS. Kendati situasi di lapangan memanas, jalur diplomasi dilaporkan belum sepenuhnya tertutup oleh kedua belah pihak.

Seorang pejabat senior dari pemerintahan Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan lanjutan masih berada “pada jalurnya untuk beberapa hari mendatang.”

Namun, ketidakpastian di jalur perairan utama ini tetap membuat para pelaku usaha pelayaran komersial menghadapi kebingungan ekstrem. Ditambah lagi, Iran kini mengajukan syarat baru yang menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan akhir dengan AS.

Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi logistik global yang mengalirkan seperlima dari total pasokan minyak mentah di seluruh dunia. Konflik bersenjata yang melibatkan poros AS, Iran, serta ketegangan regional yang melibatkan kelompok Hezbollah di Lebanon terus mempersulit stabilitas pasokan energi global. Upaya gencatan senjata teknis selama 60 hari kini berada di ujung tanduk akibat eskalasi militer yang tidak kunjung mereda di perairan Teluk.

Load More