- Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi terhadap institusi parlemen di ruang digital.
- Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Selasa, 21 Juli 2026.
- Puan menegaskan serangan informasi palsu tersebut berdampak sistematis terhadap pengikisan kepercayaan publik serta stabilitas lembaga demokrasi.
Suara.com - Ketua DPR RI, Puan Maharani menyoroti maraknya disinformasi dan hoaks di ruang digital yang menyasar institusi parlemen.
Hal tersebut disampaikannya dalam pidato pada Rapat Paripurna DPR RI Ke-26 Penutupan Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Puan memaparkan bahwa arus informasi yang bergerak sangat cepat saat ini membawa tantangan serius bagi demokrasi dan persatuan nasional.
"Di ruang digital, arus informasi yang bergerak cepat telah meningkatkan disinformasi, memperuncing polarisasi, dan telah mengaburkan batas antara kritik yang membangun dengan provokasi yang memecah belah," ujar Puan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut juga ditandai dengan beredarnya berbagai hoaks dan informasi yang dimanipulasi, termasuk konten yang diduga sengaja diproduksi atau disebarluaskan untuk mendiskreditkan DPR RI.
Beberapa kasus hoaks yang mencuat di antaranya berupa kutipan palsu yang mengatasnamakan pimpinan atau anggota DPR RI, hoaks mengenai DPR RI yang menolak pembahasan atau pengesahan RUU Perampasan Aset, hingga penggunaan video lama (old footage) yang diberi narasi baru di luar konteks.
Puan menegaskan bahwa serangan hoaks tersebut memiliki dampak sistematis terhadap hubungan antara lembaga negara dan masyarakat.
"Narasi-narasi tersebut mempertentangkan keberadaan DPR RI dengan rakyat; seolah-olah keduanya berada dalam posisi yang saling berlawanan, sehingga dapat mengikis kepercayaan rakyat terhadap lembaga perwakilan; melemahkan legitimasi institusi demokrasi; dan menghambat terciptanya ruang dialog publik yang rasional dan membangun," tegasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Puan menilai perlu adanya penguatan literasi media serta langkah nyata dari pemerintah untuk menjaga stabilitas melalui peningkatan kepercayaan publik.
Baca Juga: Jelang Reses, DPR Kebut RUU Pusat Finansial hingga Kerja Sama Pertahanan
"Kondisi ini tidak hanya menegaskan pentingnya kemampuan literasi media sosial bagi rakyat dan strategi komunikasi negara yang tepat; akan tetapi juga menuntut kehadiran negara untuk bekerja lebih efektif, sehingga dapat membangun kepercayaan publik. Kepercayaan itulah yang menjadi modal sosial bagi stabilitas politik; pertumbuhan ekonomi; dan keberhasilan demokrasi," lanjut Puan.
Di tengah situasi tersebut, Ketua DPR RI mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali berpegang teguh pada jati diri bangsa Indonesia demi memastikan kemajuan yang merata.
"Dalam situasi seperti inilah, bangsa Indonesia harus kembali kepada fondasi kebangsaannya. Bersatu dalam membangun Indonesia dan memastikan bahwa kemajuan bangsa dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya oleh sebagian kecil kelompok," tuturnya.
Puan menekankan bahwa DPR RI tidak anti-kritik. Namun, ia berharap setiap masukan memiliki tujuan yang jelas bagi kemajuan negara dan didukung oleh penegakan hukum yang adil.
"Oleh karena itu, DPR RI memandang bahwa menjaga persatuan nasional bukan berarti meniadakan kritik, melainkan memastikan bahwa setiap kritik bermuara pada perbaikan kehidupan berbangsa. Negara harus hadir memberikan kepastian hukum, menjamin keadilan bagi seluruh warga negara, memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel, serta memastikan bahwa setiap kebijakan berpihak pada kesejahteraan rakyat," pungkas Puan.
Berita Terkait
-
Jelang Reses, DPR Kebut RUU Pusat Finansial hingga Kerja Sama Pertahanan
-
Kasus Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm Perlindungan Anak di Era Digital
-
Puluhan Sekolah Kekurangan Murid, DPR Desak Evaluasi Sistem Pendidikan
-
Sekolah Sepi Murid Makin Marak, Pemerintah Didesak Petakan Ulang Kebutuhan Sekolah
-
PP Tunas Mulai Diterapkan, Komdigi Apresiasi Netflix Hadirkan Konten Anak yang Aman
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Disinformasi di Ruang Digital Ancam Demokrasi dan Persatuan Nasional, Puan: Negara Harus Hadir!
-
6 Sunscreen Terbaik untuk Wanita di Atas 40 Tahun dengan Kulit Sensitif sesuai Review dan Harga
-
Cara Membedakan Kulit Sawo Matang dan Kuning Langsat, Begini Ciri-cirinya
-
Kebakaran Mobil di SPBU Pekanbaru, Hanguskan Pompa Pengisian BBM
-
Harga Minyak Dunia Bisa Makin Kacau, Giliran Jalur Utama Ekspor BBM Arab Saudi Diblokir
-
3 Tablet Rasa Laptop yang Support WPS Office PC Level, Review Puas Kerja Lebih Praktis
-
Tayang Agustus, Song Kang dan Lee Jun Young Bintangi Drama Bertemakan Musik
-
Kejutkan Penggemar! Film Baru Alvin and the Chipmunks Akan Tayang pada 2028
-
Sukacita Gamelan: Yogyakarta Gamelan Festival ke-31 Merayakan Spirit Kebersamaan
-
Hadapi Kemarau Panjang, Warga Jakarta Diminta Jangan Asal Buang Puntung Rokok