- Guru Besar UGM Sri Raharjo menyatakan kasus keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis masih terjadi di berbagai daerah.
- Hasil investigasi laboratorium sering tidak disampaikan kepada SPPG sehingga evaluasi pemerintah berjalan tanpa data yang kuat.
- Ketiadaan pencatatan rinci rantai produksi makanan membuat identifikasi sumber masalah keracunan menjadi tidak akurat.
Suara.com - Kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terjadi di beberapa daerah. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa sistem pengamanan pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belum berjalan efektif.
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Raharjo menyatakan bahwa berulangnya insiden dengan melibatkan penyedia yang berbeda, menunjukkan evaluasi yang dilakukan pemerintah belum menyentuh akar persoalan.
Menurut Sri, persoalan terbesar bukan hanya munculnya kasus keracunan. Melainkan ketidakjelasan tindak lanjut dari hasil investigasi kasus-kasus sebelumnya.
Sampel makanan memang sering diuji di laboratorium, namun hasil akhirnya kerap tidak diketahui publik maupun pelaksana di lapangan. Akibatnya, peluang untuk memperbaiki kesalahan dan mencegah kejadian serupa menjadi hilang.
"Hasilnya kan perlu dikomunikasikan kembali, apakah betul terkonfirmasi atau tidak. Bagian ini ya karena saya tidak dapat informasi apakah itu ikutan disampaikan atau tidak, saya mengasumsikannya ya informasi hasil uji laboratorium itu mungkin tidak sepenuhnya disampaikan kembali kepada pihak SPPG untuk dilakukan tindakan koreksi," kata Sri saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).
Pola tersebut membuat evaluasi berjalan tanpa fondasi data yang kuat. Pemerintah maupun penyelenggara hanya bergerak dalam ruang dugaan ketika penyebab keracunan tidak pernah dipetakan secara terbuka dan sistematis.
Hasilnya, kasus yang sama berpotensi terus berulang di tempat berbeda.
"Nah, kalau kondisinya tadi itu nunggu hasil pemeriksaan laboratorium sering malah tidak muncul atau hilang ceritanya, maka ini menunjukkan bahwa upaya untuk mencegahnya, upaya pencegahannya itu, ya, keberhasilannya bisa dibilang relatif rendah," tandasnya.
Sri mengatakan kemampuan SPPG untuk mencegah keracunan makanan saat ini patut dipertanyakan. Sebab jika insiden terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, itu menunjukkan sistem pengendalian keamanan pangan belum bekerja secara konsisten.
Baca Juga: Indonesia Beli Susu Belarus Rp 1,3 Triliun untuk MBG, 20 Ribu Ton Susu Bubuk akan Dikirim
"Ya, kadang mungkin terjadi di SPPG-nya A, kemudian lain waktu di C, lain waktu lagi di Y, dan seterusnya. Ini kan hanya gantian saja, kalau seperti itu menunjukkan upaya untuk menjaga, mencegah gangguan keamanan pangannya itu belum berjalan dengan baik, kan," ujarnya.
Setiap SPPG, lanjut Sri, semestinya memiliki sistem penjaminan keamanan pangan yang terdokumentasi secara rinci. Mulai dari kondisi bahan baku saat diterima, suhu penyimpanan, proses pemasakan, hingga distribusi makanan harus dicatat dan dapat ditelusuri kembali apabila terjadi insiden.
Catatan tersebut menjadi instrumen utama untuk menemukan titik kegagalan dalam rantai produksi makanan. Namun, ia melihat praktik tersebut belum menjadi budaya kerja yang kuat di lapangan.
Banyak proses berjalan tanpa dokumentasi yang memadai sehingga ketika terjadi keracunan. Hal ini membuat evaluasi tidak memiliki bukti yang cukup untuk mengidentifikasi sumber masalah secara akurat.
"Ya, itu yang membuat yang namanya kayaknya sih sudah dievaluasi, tapi kan kualitas evaluasinya menjadi sangat tumpul kan, karena tidak disertai dengan data-data yang benar," tegasnya.
Menurutnya, pencatatan sederhana seperti suhu freezer, suhu pemasakan ayam, durasi pengolahan, hingga waktu distribusi makanan bisa menjadi alat penting untuk menelusuri penyebab keracunan. Tanpa data tersebut, investigasi hanya akan berakhir pada kesimpulan umum tanpa menghasilkan perbaikan yang nyata.
Sri juga mengingatkan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan MBG. Ia menilai keberhasilan program tidak bisa hanya diukur dari jumlah penerima manfaat atau kandungan gizi makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan negara menjamin makanan tersebut aman dikonsumsi.
Berita Terkait
-
Indonesia Beli Susu Belarus Rp 1,3 Triliun untuk MBG, 20 Ribu Ton Susu Bubuk akan Dikirim
-
UU Tipikor Dianggap Masih Abaikan Pemenuhan HAM, Kasus Eks Jampidsus hingga MBG Jadi Sorotan
-
Sudaryono dari Partai Apa? Ditunjuk Jadi Kepala BGN yang Baru
-
Serahkan Dugaan Korupsi MBG ke Penegak Hukum, Kepala BGN Baru Pilih Fokus Kerja
-
Sudaryono Warning Sahabat hingga Alumni, Jangan Harap Dapat 'Jatah' di Program MBG
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
Terkini
-
Evaluasi MBG Dipertanyakan, Minimnya Pelacakan Penyebab Keracunan Jadi Sorotan
-
Review Serum Glow FX Glow Bomb, Harga Rp30 Ribuan Ampuh Libas Bekas Jerawat Tanpa Perih
-
Lupakan Lari Ngos-ngosan, Ini Alasan Slow Jogging Lebih Efektif Bakar Lemak
-
Teka-teki Kematian Dokter Magang di Metro: IDI Lampung Ungkap Fakta Mengejutkan
-
Analisis Eks Utusan AS Nilai Perdamaian AS - Iran Makin Sulit karena Ini, Singgung Peran China
-
Direktur Politeknik Negeri Medan Tinjau Langsung Pelaksanaan Ujian Masuk
-
Mau Jadi Justice Collaborator, Tersangka Suap BPK Angga Wajib Seret Nama Lain ke KPK
-
Saham-saham Bakrie Jadi Buruan Asing di Sesi I
-
9 Kali Beraksi dengan Sepeda Onthel: Pengakuan Mengejutkan Begal Payudara di Surabaya
-
Kursi Wamentan Kosong, Prasetyo Ungkap Pemerintah Belum Bahas Pengganti Sudaryono