News / Nasional
Kamis, 30 Juli 2026 | 11:24 WIB
Ilustrasi praktik kedokteran. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia mengungkap mayoritas dokter magang mengalami kelelahan mental atau burnout .
  • Survei terhadap ribuan responden menunjukkan sebagian besar peserta program magang bekerja melebihi jam kerja normal dan menerima biaya hidup tidak mencukupi.
  • MGBKI mendesak Kementerian Kesehatan segera mereformasi tata kelola program magang menyusul kematian enam dokter muda dalam beberapa bulan terakhir.

Suara.com - Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) mengungkap mayoritas dokter magang atau internship di Indonesia mengalami burnout. Berdasarkan survei terhadap 4.655 responden, sebanyak 79,1 persen mengalami burnout tingkat sedang, sedangkan 9,3 persen lainnya mengalami burnout berat.

Temuan itu menjadi salah satu dasar MGBKI menilai tata kelola Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) sudah tidak manusiawi dan memerlukan reformasi menyeluruh, menyusul meninggalnya enam dokter muda dalam lima bulan terakhir.

Selain tingginya angka burnout, survei Asosiasi PIDI-PIDGI juga menunjukkan 78,1 persen peserta bekerja lebih dari 40 jam per minggu.

Sebanyak 83,4 persen responden juga menilai Bantuan Biaya Hidup (BBH) yang diterima tidak mencukupi kebutuhan pokok.

"Ini adalah kondisi yang memprihatinkan dan tidak manusiawi bagi tenaga kesehatan yang sedang dalam masa pembentukan profesionalisme. Mereka bukanlah tenaga kerja murah yang dapat dieksploitasi," kata Pengurus MGBKI, Ari Fahrial Syam kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).

Ari menilai kondisi tersebut menunjukkan kegagalan sistem pelaksanaan PIDI yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

MGBKI menyebut tingginya angka burnout tidak terlepas dari berbagai persoalan dalam penyelenggaraan PIDI, mulai dari penetapan wahana internship hingga pembayaran Bantuan Biaya Hidup yang bersumber dari APBN.

Pemakaman dokter magang, Myta Aprilia Azmy di OKU Sumatera Selatan.

Sekretaris Jenderal MGBKI, Theddeus Octavianus Hari Prasetyono, mengatakan enam kasus kematian dokter internship tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian terpisah.

"Ini fenomena gunung es dari bobroknya tata kelola internship," tegasnya.

Baca Juga: Kasus Dugaan Intimidasi dr. Icha Naik Penyidikan, Empat Terlapor Mulai Didalami

Ia juga menyoroti minimnya perlindungan bagi dokter internship, termasuk belum adanya jaminan imunisasi bagi peserta yang ditempatkan di daerah dengan risiko wabah.

MGBKI turut mengkritik sikap Kementerian Kesehatan yang dinilai lebih defensif daripada solutif dalam menyikapi setiap kasus kematian dokter internship.

Menurut organisasi tersebut, investigasi selama ini lebih banyak berfokus pada faktor individu, seperti riwayat penyakit korban, dibanding mengevaluasi sistem pelaksanaan program.

Selain itu, MGBKI menilai perhatian Kemenkes lebih banyak diarahkan pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), padahal PIDI merupakan program yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah melalui Kementerian Kesehatan.

Atas kondisi tersebut, MGBKI mendesak Kemenkes segera membentuk tim investigasi independen yang kredibel dan transparan untuk mengaudit seluruh aspek PIDI, termasuk enam kasus kematian dokter internship.

MGBKI juga meminta penghentian praktik normalisasi jam kerja berlebih, menghentikan penugasan dokter internship sebagai tenaga tunggal tanpa supervisi yang jelas, serta meninjau kembali besaran Bantuan Biaya Hidup agar lebih layak dan adil.

"MGBKI tidak akan berhenti bersuara sampai reformasi nyata dilakukan. Tidak ada kata terlambat untuk berbenah, tetapi setiap hari yang berlalu tanpa perubahan adalah hari di mana nyawa dokter muda lainnya terancam," pungkas Teddy.

Load More