News / Internasional
Jum'at, 31 Juli 2026 | 16:35 WIB
RAF Akrotiri Pangkalan Militer Inggria [CLD Systems]
Baca 10 detik
  • Warga London berusia 44 tahun ditangkap di Siprus atas dugaan spionase pangkalan militer Inggris.

  • Tersangka diduga kuat menyerahkan hasil pengintaian RAF Akrotiri kepada Korps Garda Revolusi Iran.

  • Inggris menggunakan undang-undang keamanan nasional baru untuk mengajukan proses ekstradisi tersangka dari Siprus.

Suara.com - Kepolisian Inggris resmi meminta ekstradisi seorang warga London yang ditangkap di Siprus atas dugaan tindakan spionase terhadap pangkalan udara RAF Akrotiri demi kepentingan Garda Revolusi Iran. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa aksi pengawasan ilegal tersebut mengincar fasilitas militer vital yang menjadi pusat operasi pertahanan Inggris di kawasan Timur Tengah.

Tersangka bernama Rashad Sultanov, pria dwikewarganegaraan Inggris-Azerbaijan berusia 44 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi taksi di London, ditangkap sejak 17 Juli lalu. Penangkapan ini membongkar pola baru ancaman intelijen asing yang memanfaatkan warga sipil beridentitas domestik untuk menembus objek vital pertahanan negara.

Pengungkapan kasus ini menandai langkah tegas pertama kepolisian kontra-terorisme Inggris dalam menerapkan undang-undang keamanan nasional baru untuk menjangkau aksi spionase luar negeri. Penyelidikan intensif difokuskan pada serangkaian insiden pengintaian mencurigakan yang terjadi di sekitar area pangkalan militer sepanjang Mei hingga Juni 2025.

Pemerintah Inggris kini memproses tuntutan hukum formal berdasarkan National Security Act untuk membawa tersangka kembali ke London guna menggembalikan integritas keamanan pangkalan militer mereka. Pangkalan RAF Akrotiri sendiri memiliki peran krusial sebagai pangkalan udara utama bagi armada jet tempur Inggris dalam operasi penumpasan kelompok ISIS di Irak dan Suriah, serta serangan balasan terhadap milisi Houthi di Yaman.

Kerentanan pangkalan udara di Cyprus ini menjadi sorotan tajam setelah serangan armada drone buatan Iran sempat menghantam area tersebut pada Maret lalu di awal eskalasi konflik regional.

Commander Helen Flanagan dari unit kepolisian kontra-terorisme London menegaskan keseriusan otoritas dalam menangani ancaman spionase internasional ini.

"Kasus ini menunjukkan bahwa kami mampu menggunakan Undang-Undang Keamanan Nasional di luar negeri ketika pangkalan militer Inggris diduga menjadi sasaran aktivitas negara asing yang bermusuhan," ujar Commander Helen Flanagan, dikuitp dari AP, Jumat (31/7/2026).

Langkah hukum agresif ini diambil tak lama setelah pemerintah Britania Raya secara resmi memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran ke dalam daftar organisasi terlarang. Langkah pemblokiran penuh tersebut dipicu oleh penilaian intelijen yang mengategorikan korps militer Iran sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas keamanan nasional Inggris dan sekutunya.

Penyelidikan beruntun ini mempertegas fakta bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah meluas menjadi perang spionase langsung yang mengancam aset-aset strategis Inggris di kawasan Mediterania.

Baca Juga: Duaarrr! Rudal Iran Hancurkan 3 Jet Tempur F-35 AS di Pangkalan Al-Azraq Yordania

Load More