News / Metropolitan
Jum'at, 31 Juli 2026 | 18:15 WIB
Sebanyak sepuluh titik di Kelurahan Keranggan dan Serpong kini krisis air bersih yang memaksa ratusan kepala keluarga bergantung sepenuhnya pada bantuan armada tangki. (Suara.com/ Cornelius Juan Prawira)
Baca 10 detik
  • BPBD Kota Tangsel mencatat sepuluh titik di Keranggan dan Serpong mengalami krisis air bersih sejak Juli 2026.
  • Sebanyak 146.350 liter air bersih telah disalurkan untuk membantu 222 kepala keluarga yang terdampak kekeringan.
  • Warga berharap pemerintah melibatkan ahli geohidrologi untuk menentukan titik mata air sebelum membangun sumur bor mandiri.

Suara.com - Musim kemarau mulai "menggigit" sebagian wilayah Tangerang Selatan (Tangsel). Sebanyak sepuluh titik di Kelurahan Keranggan dan Serpong kini krisis air bersih yang memaksa ratusan kepala keluarga bergantung sepenuhnya pada bantuan armada tangki.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, periode 8 hingga 30 Juli 2026 mencatat sembilan titik kekeringan di Keranggan dan satu titik di Serpong.

Sebanyak 222 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung, dengan total 146.350 liter air bersih telah digelontorkan untuk menyambung hidup warga.

Komandan Tim BPBD Tangsel, Wawan, tampak sibuk mengisi deretan toren di RT 012/RW 05, Keranggan, pada Jumat (31/7/2026).

Di tengah terik matahari, ia menjelaskan bahwa timnya bekerja ekstra demi memastikan warga tidak kehabisan stok air.

"Warga bilang kekeringan dari pertengahan Juni, tapi laporan dari kelurahan masuk awal Juli. Di satu titik, satu kali ngisi toren bisa tahan dua hari," ungkap Wawan di sela-sela aktivitasnya mengoperasikan selang tangki.

Setiap harinya, BPBD mengerahkan 9 hingga 10 personel untuk menyalurkan sekitar 21 ribu liter air.

Misi kemanusiaan ini didukung oleh berbagai pihak, mulai dari armada BBWS Ciliwung Cisadane, Baznas, Sinar Mas, Dinas Lingkungan Hidup, hingga Palang Merah Indonesia (PMI) Tangsel. Seluruh pasokan air ini bersumber dari PDAM Serpong.

Ketua RW 02 Kampung Koceak, Nasrullah, menyebutkan bahwa meski situasi tahun ini sulit, kondisi pada 2023 jauh lebih parah. Saat ini, salah satu wilayah paling kritis adalah RT 06/RW 02 dengan 30 KK yang terdampak.

Baca Juga: Kemarau Lumpuhkan 329 Telaga Air di Gunungkidul

"Walaupun sebagian RT-RW juga ada yang terdampak, cuma tidak separah misalkan RT 6 itu udah 30 KK. Dan memang lagi-lagi hari ini tuh belum parah banget," kata Nasrullah kepada Suara.com.

Kondisi tanah di Keranggan yang terjal, ditambah dampak aktivitas galian pasir di masa lalu, disinyalir menjadi penyebab utama rendahnya daya serap dan tampung air tanah. Saat ini, debit air sumur warga menyusut drastis.

Sebanyak sepuluh titik di Kelurahan Keranggan dan Serpong kini krisis air bersih yang memaksa ratusan kepala keluarga bergantung sepenuhnya pada bantuan armada tangki. (Suara.com/ Cornelius Juan Prawira)

"Kalau dulu memang belum ada toren, bantuan air datang, mereka pakai ember diangkutin ke rumah. Akhirnya saya inisiatif dengan kelurahan gimana caranya biar titik-titik itu kita kasih toren lah," jelasnya mengenai strategi penempatan toren berkapasitas 2.000 liter agar warga tidak perlu lagi mengantre panjang.

Ironi di Dekat Jalur Pipa

Krisis ini menyisakan ironi pahit. Wilayah RW 06 sebenarnya berada sangat dekat dengan jalur utama PDAM Serpong, namun akses air perpipaan belum juga menyentuh kran rumah warga.

"Kami pun dekat PDAM sama Serpong RW 1. Cuma memang tidak dialirkan pipanisasinya ke mari," keluh Nasrullah.

Sebagai solusi permanen, Nasrullah bersama warga berencana membangun sumur bor dan sistem pipanisasi mandiri. Namun, mereka tak ingin gegabah. Warga berharap pemerintah atau pihak terkait dapat menerjunkan ahli geohidrologi untuk menentukan titik mata air yang tepat.

"Harapannya ada ahli geohidrologi yang bisa dilibatkan untuk mencari titik mata air yang tepat di wilayah tersebut sebelum pengeboran, agar mata air bisa tetap ada meski musim kemarau," pungkasnya.

Reporter: Cornelius Juan Prawira 

Load More