News / Internasional
Senin, 03 Agustus 2026 | 15:05 WIB
Presiden Argentina Javier Milei. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Javier Milei kembali menyerang Lula da Silva dengan sebutan pencuri dan koruptor.

  • Brasil menarik duta besarnya dari Argentina menyusul pidato kontroversial Javier Milei.

  • Buenos Aires berusaha meredakan konflik politik dengan mitra dagang utamanya tersebut.

Suara.com - Presiden Argentina Javier Milei kembali memicu ketegangan diplomatik dengan menuduh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva sebagai koruptor. Tudingan pedas ini disampaikan Milei dalam wawancara di saluran televisi LN+.

Pernyataan tersebut memperuncing perselisihan ideologi antara dua pemimpin negara terbesar di Amerika Selatan. Pemimpin berhaluan libertarian ini secara terbuka menyebut politisi kawakan Brasil itu sebagai narapidana.

Sikap keras Milei menandai eskalasi baru dalam dinamika politik kawasan yang kian terpolarisasi. Langkah frontal ini berpotensi mengganggu stabilitas hubungan bilateral di Amerika Latin.

Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10/2025). [ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd/agr]

Seteru kedua tokoh berawal saat Milei menghadiri agenda politik di Brasil pekan sebelumnya untuk mendukung Flavio Bolsonaro. Dalam kesempatan itu, Milei menyindir kepemimpinan Lula sekaligus mengecam hakim Mahkamah Agung Brasil.

Serangan verbal tersebut langsung memicu tanggapan keras dari pihak pemerintah Brasil. Brasilia memutuskan menarik pulang duta besarnya di Buenos Aires untuk keperluan konsultasi diplomatik.

Juru bicara kepresidenan Argentina Adrian Ravier sempat mencoba mendinginkan suasana antarnegara tetangga ini. Ravier menyebut perselisihan yang terjadi semata-mata dipicu oleh perbedaan pandangan politik dan ideologi.

Namun, Milei justru membela sikap agresifnya saat dikonfrontasi mengenai hubungannya dengan Presiden Brasil. Milei menilai tindakannya menegur tindak kejahatan adalah hal yang sangat wajar.

“Dia seorang pencuri, dia korup, dia pernah dipidana atas pencurian dan korupsi, dia pernah berada di penjara, jadi benar bahwa kita bisa memanggilnya seorang narapidana,” kata Milei tentang Lula saat wawancara di LN+.

“Apakah Anda tidak menganggapnya agresif saat seseorang mencuri dari Anda? Memanggil seorang pencuri dengan sebutan ‘pencuri’ jauh kurang serius daripada tindakan mencuri itu sendiri,” cetus Milei saat ditanya alasan sikap agresifnya.

Baca Juga: Siapa Teuku Jusuf Muda Dalam, Satu-satunya Pejabat dan Gubernur BI yang Dihukum Matii

Pemimpin Argentina itu menegaskan bahwa pembebasan Lula dari hukuman penjara tidak menghapus status hukum masalah masa lalunya. Menurutnya, keputusan pengadilan tersebut hanya didasari oleh kendala prosedural administratif.

“Mereka membebaskannya karena kesalahan administratif, bukan karena dia tidak bersalah. Oleh karena itu, dia adalah seorang pencuri dan pejabat yang korup,” tegas pemimpin Argentina tersebut.

Milei mengklaim tindakan konfrontatifnya dilakukan demi mempertahankan prinsip kebebasan yang diusungnya.

“Saya melakukan ini karena saya adalah pejuang cita-cita kebebasan,” tambahnya.

Perselisihan ini memicu perhatian luas mengingat Brasil merupakan mitra dagang paling vital bagi perekonomian Argentina. Ketegangan politik ini berisiko memengaruhi kerja sama ekonomi kedua negara.

Lula da Silva sendiri sebelumnya memimpin Brasil pada periode 2003 hingga 2010 sebelum kembali terpilih. Ia sempat menjalani hukuman penjara selama 580 hari sejak April 2018 terkait investigasi skandal korupsi Operation Car Wash.

Hukuman terhadap Lula akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung Brasil karena masalah administratif. Hakim yang memimpin persidangan saat itu juga kemudian dinyatakan tidak netral dalam menangani perkara tersebut.

Load More