- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan harga Pertamax turun menjadi Rp15.950 per liter di Jakarta pada Senin.
- Penurunan harga tersebut terjadi karena mengikuti tren penurunan harga minyak mentah dunia di pasar global.
- Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM subsidi yang mencakup delapan puluh persen kebutuhan masyarakat luas.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan tanggapan terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mengalami penurunan dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter.
Bahlil menjelaskan, bahwa fluktuasi harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah dunia atau Indonesia Crude Price (ICP).
Menurutnya, koreksi harga yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari tren penurunan harga pasar global.
"Ya kan saya dari awal katakan bahwa menyangkut dengan BBM yang non-subsidi, itu harganya itu kan memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP. Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik. Dan sekarang kan lagi turun, dan kemudian badan usaha swasta melakukan koreksi terhadap penurunan harga itu. Nah, sekarang kan lagi turun nih," ujar Bahlil di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Saat ditanya mengenai proyeksi harga ke depan, terutama dengan adanya ketidakpastian kondisi geopolitik dunia, Bahlil mengakui bahwa hal tersebut sulit diprediksi secara pasti.
Namun, ia menekankan fokus utama pemerintah adalah menjaga stabilitas harga BBM subsidi agar tidak membebani masyarakat luas.
"Ya tergantung, ya tergantung kondisi geopolitik dunia. Tapi yang penting gini loh, yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting," tegas Bahlil.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa porsi penggunaan BBM subsidi mencakup mayoritas kebutuhan masyarakat, sehingga pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan perlindungan melalui skema subsidi.
"Karena total pemakaian BBM 80% itu subsidi, yang non-subsidi itu 20%, itu kan bagi yang mampu, bagi saudara-saudara kita yang mampu gitu loh. Tapi kalau yang 80% itu tetap menjadi bagian yang ditanggung oleh pemerintah, yaitu subsidi," pungkasnya.
Baca Juga: Harga Pertamax Series Turun Mulai 1 Agustus 2026, Ini Rincian Lengkapnya
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Putusan MK soal MBG Sarat Kompromi Politik, Bukan Murni Pertimbangan Hukum
-
Siswa Madrasah di Pati Patah Jari Usai Di-Bully, Pengakuan Keluarga dan Sekolah Bertentangan
-
GPFE 2026: Perkuat Kolaborasi Pengadaan, Dorong TKDN, dan Dukung Program Prioritas Nasional
-
DPR Soroti Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2: Jangan Ada Toleransi untuk Kapal Tak Laik
-
Sidak Suryakencana, Wakil Wali Kota Bogor Bongkar Setoran Jukir Cuan Hingga Rp480 Ribu Sehari
-
Ledakan Guncang Bogor di Depan Hotel Pemain Vietnam Jelang Lawan Timnas Indonesia
-
Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tak Naik Meski Harga Minyak Dunia Berfluktuasi
-
Saham Tempo (TMPO) Terbang 35 Persen Sentuh ARA, Investor Bertaruh Isu Demo Agustus?
-
Skema Pagar Dedie Rachim Bikin Waswas, Warga RE Martadinata Minta JPO Dulu Sebelum Ditutup
-
Pipa PAM JAYA Bocor di Antasari, Ganggu Suplai Air 18 Kelurahan di Jakarta Selatan