News / Internasional
Senin, 03 Agustus 2026 | 17:51 WIB
Rudal Iran (Tasnimnews)
Baca 10 detik
  • Serangan fisik Iran dan AS melumpuhkan setidaknya lima pusat data di kawasan Teluk.

  • Iran menargetkan fasilitas komputasi awan karena menganggapnya sebagai bagian dari infrastruktur militer.

  • Bencana fisik ini melonjakkan biaya asuransi serta mengancam keberlanjutan investasi AI Teluk.

Reddie menegaskan bahwa posisi Amazon sangat mencolok di mata musuh.

"Jika Anda adalah Iran dan melihat Amazon, fasilitas itu sama saja seperti dipasangi bendera Amerika di seluruh permukaannya," tambah Reddie.

Konstruksi gudang penyimpanan server yang rapuh membuat pusat data hampir tidak mungkin dilindungi dari ledakan bom atau drone. Penanggung risiko asuransi MSIG, Philip Wray, menegaskan bahwa peralatan mahal di dalam gedung sangat rentan terhadap kehancuran fisik.

Perusahaan teknologi kini mengandalkan sistem cadangan redundansi data di lokasi lain untuk mengantisipasi kehancuran fisik fasilitas utama. Namun, perpindahan ini tidak sepenuhnya menghapus kerugian operasional dan risiko finansial.

Lonjakan biaya asuransi pusat data membuat investor asing berpikir ulang sebelum menanamkan modal baru di kawasan konflik. Joe Macejak dari broker asuransi Marsh mengonfirmasi banyak penanggung risiko mulai menolak menutup potensi kerugian fisik akibat perang.

"Beberapa klien melihat peristiwa terbaru dan berpikir dua kali untuk melanjutkan langkah, sementara beberapa perusahaan asuransi tidak nyaman menanggung risiko tertentu," kata Joe Macejak. Lonjakan biaya komponen hardware dan tenaga kerja membuat risiko penanaman modal semakin membengkak.

Sebagai latar belakang isu, kawasan Teluk seperti Arab Saudi dan UEA sebelumnya gencar mengalokasikan dana kedaulatan triliunan dolar untuk membangun infrastruktur AI raksasa seperti proyek Stargate. Namun, eskalasi militer regional pada tahun 2026 mengubah arah risiko investasi dari ranah peretasan siber menjadi ancaman kehancuran fisik akibat perang rudal.

Load More