- Guru Besar Fisipol UGM Gabriel Lele mengkritik kebijakan kenaikan tukin TNI dan Kemenhan pada Selasa (4/8/2026).
- Kebijakan kenaikan tukin tersebut dinilai diskriminatif karena mengabaikan nasib guru honorer dan tenaga kesehatan di tengah krisis fiskal.
- Pemerintah didesak memangkas anggaran proyek tidak mendesak guna mencegah pembengkakan utang akibat tata kelola belanja buruk.
Suara.com - Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Gabriel Lele, melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah menaikkan tunjangan kinerja (tukin) bagi prajurit TNI dan pegawai di lingkungan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).
Langkah ini dinilai tidak adil dan melukai rasa keadilan masyarakat di tengah kemelut krisis fiskal serta diabaikannya nasib guru honorer dan tenaga kesehatan.
Gabriel menilai perlakuan istimewa kepada Kemenhan dan TNI memperlihatkan buruknya skala prioritas pemerintah saat ini. Di saat sektor pelayanan publik dasar sedang terpuruk, pemerintah justru mengalokasikan anggaran lebih besar untuk sektor pertahanan.
"Kira-kira pesannya saat ini 'mari kita yang di pemerintah kita pesta, biarkan rakyat yang cuci piring' gitu kira-kira," tegas Gabriel kepada Suara.com, Selasa (4/8/2026).
Menurut Gabriel, publik memiliki alasan yang masuk akal untuk mempertanyakan kebijakan tersebut. Kenaikan tukin dinilai dilakukan secara diskriminatif.
Pasalnya, kebijakan itu hanya menyasar instansi tertentu. Padahal, beban hidup dan krisis ekonomi dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
"Jadi sangat-sangat disayangkan, sangat patut untuk dipertanyakan mengapa kebijakannya justru menaikkan gaji secara diskriminatif," ucapnya.
"Nah maka orang boleh saja kemudian berspekulasi... ah ini dalam rangka konsolidasi militer," imbuhnya.
Ia mengkritik pemerintah karena kerap beralasan "tidak ada anggaran" setiap kali dituntut meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik atau tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan. Namun, dalih keterbatasan anggaran itu seolah menguap ketika menyangkut alokasi anggaran untuk militer.
Baca Juga: Prabowo Pamer Diminta Jadi Brand Ambassador Kopi: Biar Dapat Suplai Terus!
"Hal-hal yang langsung berhubungan dengan publik kalau kita mau bicara tentang bagaimana membangun optimisme, membangun kesejahteraan apalagi bangsa ini. Jadi fokus saja pada mereka-mereka yang langsung berurusan dengan publik," tegasnya.
Gabriel juga menyoroti risiko memburuknya kondisi fiskal negara akibat kebijakan belanja yang dinilainya berlebihan. Apalagi, di tengah defisit anggaran yang membengkak hingga sejumlah daerah kesulitan membayar gaji ASN dan PPPK.
"Yang saya khawatirkan itu adalah ini negara merelaksasi belanjanya dan ketika pendapatan tidak mencukupi, ya sudah ambil jalan pintas saja, yaitu utang," ujarnya.
Ia mengatakan sikap pemerintah yang memaksakan kenaikan tukin tanpa naskah akademik dan konsultasi publik yang transparan menjadi bukti buruknya tata kelola negara.
Alih-alih berbasis data ilmiah (evidence-based policy), perumusan kebijakan saat ini dinilai murni lahir dari dorongan impulsif atau bahkan wangsit elite politik semata.
"Kebijakan publik di Indonesia itu sama sekali tidak jelas tujuannya. Tidak jelas permasalahan apa yang mau diselesaikan," tandasnya.
Melihat pola belanja tersebut, pemerintah didesak segera memangkas anggaran proyek-proyek kementerian yang dinilai tidak mendesak.
"Kalau kita mengenal paradigma utamanya adalah evidence-based policy, yang terjadi di Indonesia itu adalah kebalikannya ya, policy-based evidence. Bikin dulu kebijakannya, baru dicari-cari bukti pendukungnya," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo Pamer Diminta Jadi Brand Ambassador Kopi: Biar Dapat Suplai Terus!
-
Habiburokhman Pastikan Isu Surpres Ganti Kapolri Hoaks
-
Tukin TNI Naik Usai 8 Tahun Stagnan, Kenapa Gaji Guru Masih Tertinggal?
-
Berawal dari Posisi Duduk, Denny Indrayana Kirim Surat Terbuka 'Memecat Gibran' ke Prabowo
-
Sahroni Soal Isu Kapolri Diganti: Kerjanya Listyo Bagus, Kalau Gak Ada Kurangnya Itu Namanya Tuhan
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Wardah BB Tint Shade Neutral Fair Cocok untuk Kulit Apa? Ini Review Lengkap dan Keunggulannya!
-
Mata Air dan Sumur Mengering, 90 Jiwa di Bogor Selatan Terdampak Bencana Kekeringan
-
Perempuan dan Kebiasaan Overthinking: Sesulit Itukah Memerdekakan Pikiran?
-
Guru Besar UGM Semprot Kenaikan Tukin TNI-Kemenhan: Pemerintah Pesta, Rakyat Cuci Piring
-
Gawat! 50 Persen SPPG di Banten Belum Punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
-
Daftar Sanksi Ngeri yang Intai YouTuber Bigmo, Usai Libatkan Anak-Anak Promosi Liquid Vape
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem
-
Habiburokhman Pastikan Isu Surpres Ganti Kapolri Hoaks
-
Tukin TNI Naik Usai 8 Tahun Stagnan, Kenapa Gaji Guru Masih Tertinggal?
-
Cek Fakta: Benarkah PSG Ingin Rekrut Bek Timnas Indonesia Jay Idzes?